[ Jum'at, 20 Februari 2009 ]
Manga Knights of Apocalypse Volume Ketiga
Pemungkas Kisah Para Pendekar Akhir Zaman
Salah satu manga lokal terkemuka di Indonesia baru saja menutup kisahnya. Apakah hasil akhir manga ini sesuai dengan lama penantiannya?
Para penggemar manga lokal mestinya mengenal serial Knights of Apocalypse. Manga buatan Is Yuniarto, Jonh G Reinhart, dan Aswin Agastya ini diterbitkan secara independen. Tapi, manga ini cukup populer, berkat usaha yang dilakukan para pembuatnya di dalam dan di luar lembar-lembar ceritanya.
Manga ini didahului oleh riset yang cukup mendalam. Kisah dasarnya sendiri digodok selama bertahun-tahun. Lalu, Is dan John belajar dari karya mereka sebelumnya, yaitu Wind Rider. Jika Wind Rider mengadaptasi kultur Rusia, Knights of Apocalypse memakai referensi yang jauh lebih beragam, mulai Romawi Kuno hingga Turki.
Is dan John tidak hanya memfokuskan diri pada desain karakter. Mereka juga merancang lansekap sesuai dengan referensi kultur yang digunakan, dan begitu banyak kendaraan atau perangkat tempur futuristik. Pemain bisa melihat rancangan kasar desain-desain tersebut dalam halaman-halaman tertentu.
Kisah Knights of Apocalypse merupakan suatu saga yang disusun secara mendetail sedari awal. Nyaris tidak ada karakter yang hanya muncul sekilas. Semua memiliki keterkaitan satu sama lain. Padahal jumlah karakternya tergolong cukup banyak.
Volume pertama diawali oleh pengenalan karakter Lex yang mengalami amnesia. Kemudian volume kedua mulai menguak lebih dalam tentang identitas pihak antagonis. Jarak volume pertama dan volume kedua cuma beberapa bulan. Tapi, baru setelah setahun, para penggemar bisa menikmati volume ketiganya, yang merupakan volume terakhir.
Hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Rangkaian kisahnya terjalin rapi. Volume ketiga ini bukan hanya konklusi dari kisah karakter-karakter yang pernah hadir, karena ada pihak penting yang baru muncul secara signifikan di sini. Bagi yang ingat kemunculan karakter Joka dalam bagian akhir manga Houshin Engi, kira-kira seperti itulah.
Satu-satunya yang bisa dikritik adalah agar lain kali Is dan John meningkatkan kerapian gambarnya. Memang banyak manga lain, termasuk manga Jepang, yang gambarnya kalah rapi dibandingkan Knights of Apocalypse. Tapi, gambar yang lebih rapi bisa jadi nilai tambah, agar lebih sesuai dengan kualitas unsur-unsur lainnya.
Oh ya, sangat mungkin volume terakhir ini bukanlah karya akhir tentang para pendekar akhir zaman. Is dan John merencanakan Knights of Apocalypse: Melas Helios, yang merupakan prekuel dari saga ini. Sayangnya, bentuknya bukanlah manga, melainkan graphic novel.
Sekadar usul untuk Is dan John, tidak ada salahnya mempertimbangkan untuk membuat Melas Helios dalam versi manga, sebagaimana trilogi kisah utamanya. (ray)