[ Rabu, 30 Desember 2009 ]
Kresnayana Yahya: Saatnya Bank Danai Sektor Pertanian
Saatnya Bank Danai Sektor Pertanian
KETIKA musim hujan datang, sebagian besar petani di Indonesia senang karena peluang mendulang uang mulai dibuka. Musim tanam memang jarang diberitakan, pun saat persoalan pangan sudah sangat serius dan kritis. Ketersediaan pangan dunia dalam ancaman kekurangan dan kenaikan harga disebabkan pemanfaatan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gula untuk dijadikan biofuel, pemenuhan kebutuhan energi.
Karena itu, Indonesia harus jauh berpikir ke depan untuk menjaga ketahanan pangannya. Indonesia memiliki sekitar 50 juta hektare lahan pertanian. Sayang, baru separo dari lahan itu yang siap ditanami. Bayangkan jika seluruh lahan bisa dimanfaatkan secara serentak ketika musim tanam tiba. Sungguh luar biasa...
Investasi di bidang pangan ini sangat menggiurkan. Mengapa? Begini ceritanya. Lebih dari 40 juta orang terlibat di bidang pangan ini. Pangan memiliki mata rantai pendukung yang panjang, dari pengadaan bibit, alat pertanian, pupuk, hingga pengaturan irigasi. Mata rantai inilah yang menjadi penjaga kesuksesan musim tanam, yang memang menentukan ketersediaan pangan 240 juta penduduk.
Komoditas pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, tebu atau ternak semisal sapi, kambing, ayam, serta perikanan secara meluas menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Harap diingat, 60 persen ketergantungan ekonomi berada di mata rantai pangan. Simak saja, mata rantai dari perusahaan penggilingan daging, pembibitan tanaman dan ternak, serta perusahaan pengolah makanan dan pakan. Restoran dan rumah tangga akan jadi penyedia akhirnya. Sekitar Rp 2000 triliun yang berputar di Indonesia per tahun berasal dan berawal dari mata rantai pangan.
Kebutuhan 70 juta ton setara beras per tahun untuk Indonesia selama tiga tahun terakhir masih bisa dipenuhi. Swasembada beras menjadi bukti kemandirian penyediaan pangan secara menyeluruh dan independen. Hal ini juga membuktikan mata rantai dari penyedia bibit hingga jutaan keluarga petani yang menjadi penanggung kerja dan penggagas keberhasilan tanam itu berjalan dengan baik.
Sekitar 50-60 persen produksi beras tersebut dihasilkan dalam musim tanam utama Desember 2009-April 2010. Inilah masa yang menentukan keberhasilan ketahanan pangan, yang menjamin ketahanan politik dan pemerintahan. Sekitar Rp 200 triliun dipertaruhkan dalam empat bulan tersebut hanya dari tersedianya beras.
Masa empat bulan itu tentu saja juga akan memengaruhi ketahanan ekonomi. Pasalnya, hingga saat ini penyebab inflasi berantai yang paling ganas adalah jika ketersediaan beras dan mata rantainya terganggu.
Karena itu, kemauan pemerintah menaikkan dan mengatur harga dasar gabah untuk menaikkan kesejahteraan petani justru menjadi sumber utama perbaikan daya beli masyarakat tahun depan.
Kalau saja petani mendapat dukungan kenaikan harga dasar gabah sekitar 15-20 persen, maka dapat dipastikan mata rantai 40 juta orang itu akan mendapat peningkatan daya beli sampai 30 persen. Hal ini tentu akan meningkatkan daya beli di sektor riil secara berantai. Pembelian sandang, peningkatan konsumsi pulsa, sampai investasi sepeda motor dan mobil akan meningkat 5-10 persen hanya dari sektor pertanian. Tentu dengan mata rantai yang menyertai sektor tersebut.
Potensi ini perlu disinergikan dengan berbagai rencana pengurangan subsidi pupuk dan bibit sebagai pendongkraknya. Pemanfaatan kesadaran dan pengetahuan untuk menggunakan pupuk organik dan majemuk seperti Phonska akan menjadikan produktivitas pertanian secara menyeluruh makin terjamin.
Persoalan utama yang menjadi dasar penjaminan adalah rehabilitasi irigasi pertanian secara radikal dan menyeluruh. Sentuhan yang lambat terhadap penyediaan irigasi yang selama ini sering terjadi sejak era otonomi daerah harus diakhiri dengan pengadaan alokasi anggaran yang wajar dan sadar untuk mendukung ketahanan pangan.
Selama ini, dana untuk rehabilitasi pengairan dan manajemen air secara keseluruhan sangat minim jika dibandingkan dengan harapan dan kebutuhan petani untuk meningkatkan produktivitas pangan secara berkelanjutan. Belum lagi, banyaknya lahan produktif beralih fungsi. Pun, sungai kian dangkal karena menumpuknya lumpur. Masih lagi ditambah puluhan sumber mata air kering karena lingkungan yang rusak di wilayah pegunungan dan hulu sungai.
Manajemen air dan lahan yang buruk itu membuat sentuhan teknologi yang terus melaju di sisi pengadaan bibit, perbaikan mutu pupuk, dan integrasi pemanfaatan pupuk organik menjadi kurang bermakna. Kini sangat dibutuhkan pengadaan perbaikan saluran air serta peningkatan mutu pekerja dan penyuluh tata cara cocok tanam yang produktif.
Keterpaduan untuk ketahanan pangan masih membutuhkan sentuhan kebijakan yang integral sehingga bisa fokus untuk menjamin ketersediaan pangan selama 10-20 tahun ke depan. Penyusutan lahan, berkurangnya petani produktif karena usia, dan kebutuhan beras yang akan meledak tidak akan mampu teratasi dengan pola yang berlaku saat ini. Penanganan yang radikal sangat dibutuhkan.
Pengadaan petani baru yang mendapat pelatihan secara mendasar dan mutakhir agar mampu jadi pelopor pengerjaan sawah serta lahan pertanian dengan memadukan integrasi teknologi dan pemahaman lingkungan sangat diperlukan. Namun, hal ini hanya akan berlangsung jika kebijakan pertanian dan ketahanan pangan melibatkan ahli manajemen air, pengadaan irigasi, dan pembangunan waduk atau embung, serta makin terlibatnya ahli klimatologi secara terpadu.
Jawa Timur punya tugas menyediakan cadangan pangan sekitar empat juta ton setara beras dan Sulawesi 2,5 juta ton. Dua wilayah ini harus menjadi perhatian khusus agar negara aman. Demikian pula pengadaan jagung, jika digenjot, kita bukan hanya menghemat devisa, namun juga meningkatkan devisa saat harganya sedang naik. Melihat potensinya, Kalimantan dan Papua semestinya segera disiapkan untuk menjadi penyandang penyedia pangan masa depan dengan pola intensif dan berstruktur serta melibatkan masyarakat.
Mari kita dorong kemampuan para petani dan pemasok pertanian menjadi pahlawan ekonomi bangsa. Mari kita pintarkan bank agar mau menjadi penyandang dana investasi pertanian, dan mari kita sokong anak muda supaya mau ikut terjun dalam dunia pertanian yang makin menjanjikan dan strategis buat ketahanan bangsa.
*). Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult