Kamis, 02 September 2010
 
  Berita Utama
[ Rabu, 30 Desember 2009 ]
Kresnayana Yahya: Saatnya Bank Danai Sektor Pertanian
Saatnya Bank Danai Sektor Pertanian

KETIKA musim hujan datang, sebagian be­sar petani di Indonesia senang karena pe­luang mendulang uang mulai dibuka. Musim tanam memang jarang diberitakan, pun saat persoalan pangan sudah sangat serius dan kritis. Ketersediaan pa­ngan dunia dalam ancaman kekura­ngan dan kenaikan harga disebabkan pemanfaatan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gula untuk dijadikan biofuel, peme­nuhan kebutuhan energi.

Karena itu, Indonesia harus jauh berpikir ke depan untuk menjaga ketahanan pa­ngan­nya. Indonesia memiliki sekitar 50 juta hektare lahan pertanian. Sayang, ba­ru separo dari lahan itu yang siap dita­nami. Bayangkan jika seluruh lahan bi­sa dimanfaatkan secara serentak ketika musim tanam tiba. Sungguh luar biasa...

Investasi di bidang pangan ini sangat menggiurkan. Mengapa? Begini cerita­nya. Lebih dari 40 juta orang terlibat di bi­dang pangan ini. Pangan memiliki ma­ta rantai pendukung yang panjang, dari pengadaan bibit, alat pertanian, pupuk, hingga pengaturan irigasi. Mata rantai ini­lah yang menjadi penjaga kesuksesan mu­sim tanam, yang memang menentukan keter­se­diaan pangan 240 juta penduduk.

Komoditas pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, tebu atau ternak semisal sa­pi, kambing, ayam, serta perikanan se­cara meluas menjadi tulang punggung eko­nomi Indonesia. Harap diingat, 60 per­sen ketergantungan ekonomi berada di mata rantai pangan. Simak saja, mata rantai dari perusahaan penggilingan da­ging, pembibitan tanaman dan ternak, ser­ta perusahaan pengolah makanan dan pakan. Restoran dan rumah tangga akan jadi penyedia akhirnya. Sekitar Rp 2000 triliun yang berputar di Indonesia per tahun berasal dan berawal dari mata ran­tai pangan.

Kebutuhan 70 juta ton setara beras per tahun untuk Indonesia selama tiga tahun terakhir masih bisa dipenuhi. Swasembada beras menjadi bukti kemandirian penyedia­an pangan secara menyeluruh dan indepen­den. Hal ini juga membuktikan mata rantai dari penyedia bibit hingga jutaan keluar­ga petani yang menjadi penanggung kerja dan penggagas keberhasilan tanam itu berjalan dengan baik.

Sekitar 50-60 persen produksi beras tersebut dihasilkan dalam musim ta­nam utama Desember 2009-April 2010. Inilah masa yang menentukan ke­berhasilan ketahanan pangan, yang menjamin ketahanan politik dan peme­rintahan. Sekitar Rp 200 triliun diperta­ruhkan dalam empat bulan tersebut ha­nya dari tersedianya beras.

Masa empat bulan itu tentu saja juga akan memengaruhi ketahanan ekonomi. Pasalnya, hingga saat ini penyebab inflasi berantai yang paling ganas adalah jika ketersedia­an beras dan mata rantainya terganggu.

Karena itu, kemauan pemerintah me­naik­kan dan mengatur harga dasar gabah untuk menaikkan kesejahteraan petani justru menjadi sumber utama perbaikan daya beli masyarakat tahun depan.

Kalau saja petani mendapat dukungan kenaikan harga dasar gabah sekitar 15-20 persen, maka dapat dipastikan mata rantai 40 juta orang itu akan men­dapat pe­ning­katan daya beli sampai 30 persen. Hal ini tentu akan meningkatkan da­ya beli di sektor riil secara berantai. Pem­belian sandang, peningkatan kon­sum­si pulsa, sampai investasi sepeda motor dan mobil akan meningkat 5-10 persen hanya dari sektor pertanian. Tentu dengan mata rantai yang menyer­tai sektor tersebut.

Potensi ini perlu disinergikan dengan berbagai rencana pengurangan subsidi pupuk dan bibit sebagai pendongkrak­nya. Pemanfaatan kesadaran dan pe­nge­ta­huan untuk menggunakan pupuk or­ga­nik dan majemuk seperti Phonska akan menjadikan produktivitas pertanian secara menyeluruh makin terjamin.

Persoalan utama yang menjadi dasar penjaminan adalah rehabilitasi irigasi pertanian secara radikal dan menyeluruh. Sentuhan yang lambat terhadap penyedia­an irigasi yang selama ini sering terjadi se­jak era otonomi daerah harus diakhiri dengan pengadaan alokasi anggaran yang wajar dan sadar untuk mendukung ketahanan pangan.

Selama ini, dana untuk rehabilitasi pengairan dan manajemen air secara ke­seluruhan sangat minim jika dibanding­kan dengan harapan dan kebutuhan petani untuk meningkatkan produktivitas pangan secara berkelanjutan. Belum lagi, banyaknya lahan produktif beralih fungsi. Pun, sungai kian dangkal karena menumpuknya lumpur. Masih lagi ditam­bah puluhan sumber mata air ke­ring karena lingkungan yang rusak di wilayah pegunungan dan hulu sungai.

Manajemen air dan lahan yang buruk itu membuat sentuhan teknologi yang terus melaju di sisi pengadaan bibit, perbaikan mutu pupuk, dan integrasi pemanfaatan pupuk organik menjadi kurang bermakna. Kini sangat dibutuhkan pengadaan perbaikan saluran air serta pening­katan mutu pekerja dan penyuluh tata cara cocok tanam yang produktif.

Keterpaduan untuk ketahanan pangan masih membutuhkan sentuhan kebijakan yang integral sehingga bisa fokus untuk menjamin ketersediaan pangan selama 10-20 tahun ke depan. Penyusutan lahan, berkurangnya petani produktif karena usia, dan kebutuhan beras yang akan meledak tidak akan mampu teratasi de­ngan pola yang berlaku saat ini. Penangan­an yang radikal sangat dibutuhkan.

Pengadaan petani baru yang mendapat pelatihan secara mendasar dan mutakhir agar mampu jadi pelopor pengerjaan sawah serta lahan pertanian dengan memadukan integrasi teknologi dan pemaham­an lingkungan sangat diperlukan. Namun, hal ini hanya akan berlangsung jika kebija­kan pertanian dan ketahanan pangan melibatkan ahli manajemen air, pengadaan irigasi, dan pembangunan waduk atau embung, serta makin terlibatnya ahli klima­tologi secara terpadu.

Jawa Timur punya tugas menyediakan cadangan pangan sekitar empat juta ton setara beras dan Sulawesi 2,5 juta ton. Dua wilayah ini harus menjadi perhatian khu­sus agar negara aman. Demikian pu­la penga­daan jagung, jika digenjot, ki­ta bukan hanya menghemat devisa, na­mun juga meningkatkan devisa saat har­ganya sedang naik. Melihat poten­sinya, Kalimantan dan Papua semestinya segera disiapkan untuk menjadi penyandang penyedia pangan masa depan dengan pola intensif dan berstruktur serta melibatkan masyarakat.

Mari kita dorong kemampuan para petani dan pemasok pertanian menjadi pahlawan ekonomi bangsa. Mari kita pintarkan bank agar mau menjadi penyandang dana inves­tasi pertanian, dan mari kita sokong anak muda supaya mau ikut terjun dalam dunia pertanian yang makin menjanjikan dan strategis buat ketahanan bangsa.

*). Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult