Kamis, 02 September 2010
 
  Berita Utama
[ Minggu, 25 Juli 2010 ]
Masih Kurang 4,5 Juta Pengusaha
Kampus Berlomba Tularkan "Virus" Entrepreneurship

INDONESIA benar-benar minim pengusaha. Negeri ini baru memiliki sekitar 450 ribu entrepreneur. Angka itu hanya 0,18 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 250-an juta.

Bandingkan dengan Singapura yang pada 2001 saja sudah mempunyai 4,24 juta wirausahawan atau sekitar 2,1 persen dari total populasi. Bahkan, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat, yakni menjadi 7,2 persen.

Padahal, jika ingin menjadi bangsa yang mandiri, Indonesia perlu memperbanyak jumlah pengusaha. Seperti dikatakan sosiolog David McClelland, salah satu syarat bangsa yang mandiri adalah mempunyai jumlah pengusaha minimal 2 persen dari total populasi.

Artinya, jika jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta orang, masih dibutuhkan sekitar 4,5 juta pengusaha lagi agar bangsa ini bisa disebut mandiri.

Sebenarnya, semangat mengubah mindset dari bangsa yang hanya mengandalkan lapangan pekerjaan menjadi bangsa pengusaha belakangan mulai bermunculan. Bahkan, pemerintah telah memasukkan kewirausahaan (entrepreneurship) dalam kurikulum sekolah mulai 2010.

Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mengatakan, substansi kurikulum tersebut adalah pembentukan karakter kewirausahaan pada peserta didik, termasuk rasa ingin tahu, fleksibilitas berpikir, kreativitas, dan kemampuan berinovasi. "Yang pertama harus dibentuk adalah flexibility thinking. Sebab, itulah yang akan mendorong kreativitas. Orang tidak akan kreatif kalau berpikiran kaku," katanya. Dia menambahkan, kreativitas dan daya inovasi tidak akan tumbuh jika model pemikiran yang dibentuk sekolah-sekolah bersifat kaku.

Substansi kurikulum berbasis kewirausahaan selanjutnya bakal menjadi bagian dari materi pelajaran pada setiap jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Bentuk materi kewirausahaan akan disesuaikan de­ngan jenjang pendidikan. "Itu bisa masuk ke mata pelajaran, disebar, atau ditarik sebagai mata pelajaran tersendiri. Tapi, itu harus dihitung dulu supaya sesuai dengan batas maksimum waktu belajar yang harus ditanggung siswa," paparnya.

Beberapa perguruan tinggi juga mulai memasukkan kewirausahaan dalam kurikulum. Salah satunya adalah ITS, yang menerapkan kurikulum tersebut sejak tahun lalu. Kewirausahaan dikemas dalam mata kuliah teknopreneurship atau kewirausahaan di bidang teknologi. "Untuk implementasinya, kami mewajibkan mahasiswa mengambil mata kuliah pengantar teknopreneurship. Setelah itu, untuk teknopreneurship lanjutan, mereka diberi kebebasan untuk melanjutkan atau tidak," ujar Pembantu Rektor I (bidang akademis) ITS Prof Ir H Arif Djunaidy MSc PhD.

ITS berupaya agar mata kuliah teknopreneurship tidak bersifat teoretis. Karena itu, ITS bekerja sama dengan alumni yang sukses berwirausaha untuk turut memberikan kuliah. "Materi mata kuliah juga disusun bersama dengan alumni," ujar Arif.

Selain itu, ITS menyediakan pusat inkubasi yang didanai Dikti. Sesuai dengan bidang, di sana para mahasiswa berpraktik langsung menjadi teknopreneur plus diberi suntikan modal. Ada juga kerja sama dengan alumni untuk pelaksanaan kompetisi business plan. Pemenang kompetisi akan dibina. Selain itu, rencana usahanya bakal mendapatkan pembiayaan dari alumni.

Karena tergolong baru, target ITS akan lahirnya teknopreneur di kalangan mahasiswanya tidak banyak. "Kami menarget 5 persen dari lulusan ITS mengambil program inkubasi itu," ujar Arif.

Jika ITS sudah memasukkan program wirausaha ke dalam mata kuliah, UGM menjalankan program tersebut sebagai pelatihan di luar kegiatan akademis. Sejak dua tahun lalu, UGM membentuk kelompok-kelompok wirausaha mahasiswa berbasis riset. Program itu bertujuan membentuk para pengusaha muda.

Basis riset diterapkan karena para pelakunya merupakan akademisi. "Sudah banyak penelitian yang kami lakukan. Salah satu riset membahas potensi ikan pari di pantai selatan. Dari riset itu, diketahui kulit ikan pari dapat digunakan untuk tas," jelas Suryo Baskoro dari Humas UGM.

Program tersebut dilaksanakan dengan menggandeng para sponsor, seperti bank maupun perusahaan-perusahaan. "Saat ini entrepreneurship memang belum kami masukkan ke dalam kurikulum, tapi akan mengarah ke sana," ujar Suryo.

Soal minat, dia mengatakan bahwa animo mahasiswa terhadap program itu sangat besar. Mahasiswa sudah mempunyai awarness untuk memupuk gairah entrepreneurship. "Sudah banyak yang mempunyai mindset setelah lulus tidak mencari kerja, melainkan justru menciptakan lapangan pekerjaan," lanjut dia. UGM patut berbangga karena beberapa lulusannya sukes menjadi jawara dalam program Wirausaha Muda Mandiri 2009.

Prestasi yang membanggakan tersebut ditorehkan oleh Agung Susatyo Nugroho SH, alumnus Fakultas Hukum UGM. Dia terpilih sebagai peraih peringkat I dalam kategori Alumni Industri dan Jasa. Selain itu, Indra Haryadi dari jurusan ilmu komputer sukses meraih peringkat kedua dalam kategori Mahasiswa Industri Kreatif. Berikutnya, Saiqa Ilham Akbar dari jurusan manajemen menyabet peringkat kedua dalam kategori Mahasiswa Industri Boga. "Harapannya, semangat itu bisa ditiru mahasiswa UGM lainnya," papar Suryo. (ign/c11/ami)