[ Senin, 15 September 2008 ]
Pesta Miras, Belasan Orang Bergelimpangan
Satu demi Satu Tewas Beruntun selama Sepekan
INDRAMAYU - Pesta minuman keras yang dilakukan sekelompok warga Kecamatan Terisi, Indramayu, pekan lalu terus berdampak hingga kemarin (14/9). Satu demi satu peserta pesta miras tersebut tewas.
Terakhir, Waskum asal Desa Ciberem tewas di RSUD Indramayu Sabtu malam lalu. Sehari sebelumnya, Roni, warga Desa Karangasem, mengembuskan napas terakhir Jumat malam. Dengan demikian, korban tewas miras maut tersebut mencapai 16 orang.
Belasan lainnya masih dirawat di rumah sakit dengan keluhan serupa dengan mereka yang sudah tewas terlebih dahulu. Keluhannya adalah pusing, pandangan mata kabur, sulit bernapas, mual, muntah, sampai tidak sadarkan diri 5-12 jam.
Keluarga Roni sempat menutup-nutupi kematian tersebut. Hal itu baru terungkap setelah dua temannya -Ahmad Rifai, 20, dan Nono Marjono, 27- dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Tingkat IV Indramayu, Losarang, Sabtu (13/9) pukul 01.55 dini hari. "Roni meninggal pukul 9 malam di rumahnya. Teman saya satu lagi yang ikut minum, Karno (25), belum diketahui kabarnya," tutur Nono.
Sama seperti korban keracunan miras yang lain, Nono menyebutkan, jenis miras yang diminum bersama temannya itu adalah Vodka yang dioplos minuman suplemen. Namun, dari mana minuman itu diperoleh, bapak satu orang anak tersebut memilih diam dan melanjutkan tidurnya. Versi lain, minuman beralkohol itu dicampur dengan losion antinyamuk.
Banyaknya korban tewas setelah berpesta minuman tersebut membuat warga lainnya cemas. Mereka khawatir anak atau kerabat mereka menyusul tewas. Kekhawatiran mereka itu beralasan karena pesta minuman keras sudah menjadi kewajaran di Terisi. Di setiap hajatan, rasanya belum lengkap kalau tidak ada pesta miras.
Salah satu yang cemas itu adalah keluarga Ahmad Rifai, 20, warga Desa Karangasem RT 01 RW 04, Kecamatan Terisi. Beberapa waktu lalu, Rifai bersama teman-temannya pergi minum minuman keras di salah satu kediaman kawannya. Setelah mengikuti pesta miras, Rifai tergeletak tak berdaya di rumahnya. Tak ingin pulang ke liang lahad lebih cepat, Rifai dibawa keluarganya ke RS.
Cahyono, salah seorang kerabat Rifai, mengungkapkan, wilayah Kecamatan Terisi termasuk salah satu daerah yang banyak beredar minuman keras. Sejumlah anak mudanya sudah terbiasa menenggak air api tersebut. "Di sini juga terdapat pengedar miras kelas kakap. Pihak berwenang sudah tahu itu dan sering melakukan operasi," ujarnya.
Dia berharap, dengan semakin banyaknya korban yang meninggal maupun kritis, polisi segera menindak tegas dengan cara menangkap penjual miras. "Harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Kalau sekadar menyita dan memusnahkan, efek jeranya kecil. Mereka akan terus menjual dan kejadian sama bakal terulang," tegasnya.
Hingga kemarin, polisi terus mengusut penyebab kematian beruntun tersebut. Sampel miras, urine, dan darah korban dibawa ke Laboratorium Forensik Mabes Polri di Jakarta untuk diperiksa.
Dugaan miras yang ditenggak mengandung racun berbahaya diperoleh dari keterangan Ramdani, 20, pasien asal Desa Krimun, Kecamatan Losarang, yang menjalani perawatan intensif di ruang inap kelas II RS Bhayangkara.
Dia mengaku berpesta miras dengan empat kawannya Senin malam (8/9). Cairan yang diminum adalah Vodka yang dioplos dengan minuman suplemen. "Cuma minum dua botol barengan. Esok paginya badan terasa panas dan kepala jadi pusing," ungkapnya.
Dia mengakui, menenggak miras ramai-ramai bukan baru kali itu dilakukannya. Hanya, kali ini efek minuman haram tersebut membuatnya terkapar tak berdaya dan hampir menjemput maut.
Berdasar keterangan Kepala RS Bhayangkara Losarang Kompol dr Asep Hendradiana SpAn MKes, para pasien yang dirujuk menampakkan gejala muntah-muntah, kesadaran menurun, sesak napas, dan pandangan kabur. "Gejala ini menunjukkan, para korban mengalami keracunan,'' jelasnya. (kho/dun/jpnn/ruk)