[ Selasa, 16 September 2008 ]
Haji Syaikhon, Juragan Kulit Dermawan yang Terseret Tragedi Zakat Maut
Sebar Keluarga Terdekat, Cari Penerima sampai Pelosok
Tragedi ''zakat maut'' di Pasuruan, Jawa Timur, membuat Haji Syaikhon, 55, disorot. Padahal, haji kaya raya itu sudah berkali-kali membagikan zakat untuk hartanya kepada ribuan orang. Siapa dia dan mengapa tahun ini tradisi mulianya itu berakhir derita?
NURLAILY A. - FANDY A, Pasuruan
Di Kota Pasuruan, keluarga Haji Syaikhon memang dikenal sebagai keluarga berada nan dermawan. Selain pengusaha kulit, dia menjadi pedagang mobil sekaligus peternak sarang burung walet. Lahan sawahnya pun di mana-mana.
Rumah yang ditempati keluarga Syaikhon cukup besar. Bangunan berlantai dua itu berdiri megah di areal sekitar 4.000 meter persegi di tengah Kota Pasuruan. Di sebelahnya ada bangunan yang dijadikan sarang burung walet.
Di dalam rumah bercat hijau muda dengan pagar besi setinggi dua meter tersebut terdapat dua mobil, Suzuki Karimun pink dan Mercedes-Benz. Rumah itu juga dilengkapi parabola.
Di halaman rumah terdapat aneka binatang peliharaan. Salah satunya monyet. Setidaknya, ada tiga primata di kandang rumah Syaikon. Halaman rumah yang asri dengan pepohonan mangga dan mengkudu itu juga dihiasi taman lengkap dengan reliefnya.
Usaha kulit sapi Syaikhon sudah menjadi usaha turun-temurun keluarga. Setelah Syaikhon meneruskan usaha orang tuanya, kini giliran anak-anak Syaikhon yang ikut membesarkan usaha tersebut. ''Ayah saya mengumpulkan kulit-kulit sapi dari para tukang jagal. Setelah dikumpulkan, kulit-kulit tersebut kami bersihkan,'' kata Vivin, 30, putra tertua Syaikhon.
Setelah dibersihkan, kulit-kuli sapi tersebut dimasak, kemudian dilipat rapi untuk dijual ke pabrik pengolah kulit. Biasanya, kulit-kulit itu dijual ke sebuah pabrik di Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Di mata kerabatnya, Syaikhon dinilai agak tertutup. Dia dikenal memiliki banyak profesi. Mulai jual-beli mobil, usaha sarang burung walet, sampai bisnis terbesarnya, yakni pengepul kulit sapi. ''Setiap tahun memang mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Tapi, saya tidak tahu persis berapa nilainya,'' ungkap salah seorang kerabat Syaikhon yang tidak mau namanya dikorankan.
Orang-orang terdekat Syaikhon memang tidak pernah ambil pusing soal besarnya harta dan banyaknya zakat yang dikeluarkan setiap tahun. Namun, kalau soal pembagian zakat, mereka sering mengingatkan agar pembagian itu tidak dilakukan secara terbuka. Memang, dalam bagi-bagi zakat seperti kemarin, Syaikhon hampir tidak banyak melibatkan orang lain, selain keluarga intinya.
Yang menjadi ketua panitia tidak lain adalah putranya. Seperti ketika kejadian maut yang menjemput nyawa 21 pengantre zakat kemarin, ketua panitia diserahkan kepada putra kedua Syaikhon, Faruq, 28. Tapi, dalam praktiknya, dia dibantu kakaknya, Vivin.
Kedua putra Syaikhon itulah yang mengoordinasi beberapa orang yang dilibatkan sebagai panitia. ''Tapi, setiap tahun juga mereka tidak pernah sekalipun melibatkan aparat kepolisian,'' ujarnya.
Setiap dianjurkan untuk melibatkan aparat, keluarga Syaikhon selalu berkilah bahwa mereka sudah meminta bantuan orang-orang ''kuat'' untuk membekingi acara bagi-bagi zakat tersebut. Tidak ada alasan mengapa harus memilih membagikan zakat secara terbuka tanpa kupon, sehingga massa yang antre tidak bisa dibendung.
Para kerabat dekat Syaikhon mengaku sering miris melihat antrean panjang yang selalu mengular setiap ada pembagian zakat di sana. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, itu sudah menjadi hak sepenuhnya Syaikhon dan keluarga.
Beberapa saat setelah kejadian, Syaikhon beserta dua putranya, Vivin dan Faruq, serta beberapa kerabat yang ikut membantu pembagian zakat tersebut diperiksa di Mapolresta Pasuruan. Mereka dimintai keterangan sejak pukul 12.30.
Hanifa, 50, istri Syaikhon, beserta anak ketiga dan keempatnya, Lely, 24, dan Haidar, 21, tak tampak saat itu.
Saat ditemui Radar Bromo, air muka Syaikhon dan kedua putranya masih tampak terkejut campur lelah. Syaikhon belum bersedia diajak berbicara. Hanya putranya, Vivin dan Faruq, yang mau memberikan keterangan kepada media. ''Saya terpaksa batal (puasa), Mas. Kejadian ini di luar dugaan kami,'' ungkap Vivin lemah kepada Radar Bromo.
Bagi-bagi uang menjelang Lebaran menjadi kebiasaan Syaikon sejak enam tahun lalu. Semula, uang yang dibagikan Rp 10 ribu per orang. Saban tahun uang sedekah dinaikkan Rp 5.000. Karena itu, kejadian pengantre zakat pingsan sebenarnya bukan hal baru. Sayangnya, kejadian itu tidak kunjung dijadikan pelajaran.
Berdasar catatan Radar Bromo, tahun lalu, tepatnya 27 September 2007, pembagian zakat Syaikhon juga bermasalah. Saat itu, setiap penerima mendapat zakat Rp 25 ribu. Pembagian zakat saat itu difokuskan di depan rumah Syaikhon. Seperti yang terjadi tahun ini, tidak ada aparat keamanan yang dilibatkan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Satu-satunya pengaturan hanya pemberian tinta merah (dari bahan pewarna) di jari para calon penerima.
Akhirnya, terjadi desak-desakan warga. Memang tidak sampai jatuh korban jiwa tahun lalu. Tapi, ada sekitar empat perempuan tua yang jatuh pingsan. Beberapa orang lainnya sampai tercebur sungai selebar 1,5 meter yang melintang di kampung tersebut.
Menurut Vivin, bapaknya mengeluarkan zakat mal dengan cara itu sejak 1980. ''Ayah selalu menyisihkan hartanya sebesar 2,5 persen. Sejak 1980, harta tersebut ayah keluarkan dalam bentuk uang kepada masyarakat,'' jelasnya.
Uang zakat tersebut dibagikan setiap tanggal 15 Ramadan. ''Pembagiannya selalu dilakukan di lingkungan rumah kami,'' ujarnya. Siapa saja yang menerima zakat tersebut? ''Para duafa,'' katanya.
Menurut Vivin, kerabat-kerabatnya yang tinggal di beberapa daerah disuruh mengumpulkan warga sampai pelosok yang masuk golongan duafa. Pada 2007, kata dia, ayahnya mengeluarkan zakat total Rp 75 juta. Zakat itu dibagikan dengan cara yang sama dengan kemarin. Hanya, tahun lalu masing-masing orang menerima Rp 25 ribu.
Untuk pembagian kemarin, per orang menerima zakat Rp 30 ribu. ''Ayah telah mengambil uang Rp 50 juta untuk dikeluarkan sebagai zakat. Biasanya kalau kurang, ngambil lagi ke bank sebanyak yang dibutuhkan,'' jelas Vivin. Tapi, sebelum uang Rp 50 juta itu terbagi seluruhnya, terjadi insiden maut tersebut.
Menurut dia, tewasnya 21 orang itu di luar perkiraan keluarganya. Dia tidak mengetahui akhirnya massa datang membanjir begitu banyak. Yang dia tahu, musala ayahnya tersebut sudah dipenuhi warga. ''Padahal, tahun lalu tidak sampai begini (sampai jatuh korban tewas, Red). Walau tahun lalu situasi juga ramai, kami masih bisa mengendalikan massa,'' tegasnya.
Faruq, putra kedua Syaikhon, menambahkan, dulu sebenarnya pernah memakai kupon untuk pembagian zakat. Namun, hasilnya tidak efektif. ''Waktu itu orang yang curang selalu balik kembali untuk meminta uang lagi. Makanya, kami tidak lagi memakai cara seperti itu,'' katanya.
Akhirnya mereka memilih cara pencelupan jari dengan tinta seperti coblosan. Tapi, tintanya menggunakan pewarna biasa. ''Itu saja masih ada orang yang balik lagi. Sampai saya kejar dan keluarkan warga tersebut,'' tegas Vivin.
Faruq pun menyatakan tidak pernah sampai terpikir memakai jasa pengamanan dari kepolisian. ''Dari pengalaman sebelumnya, keluarga kami saja sudah berhasil mengawasi kondisi,'' ujarnya.
Keduanya mengaku menyesalkan massa yang nekat dorong-mendorong. ''Saya benar-benar tidak tahu kalau jumlah warga bertambah banyak. Yang saya sesalkan, massa tidak sabar, terus berdorong-dorongan,'' ungkap Faruq.
Dorong-mendorong itulah yang menyebabkan jatuhnya banyak korban meninggal karena terinjak dan kehabisan napas. ''Kalau tahu begini, saya memakai pengamanan,'' katanya.
Vivin yang siang itu memakai baju motif garis-garis menyatakan rela dirinya beserta keluarga diperiksa polisi. ''Semua masalah pasti ada jalan ke luar,'' ujarnya.
Dia mengungkapkan lain kali akan mengubah cara pembagian zakat. ''Mungkin kami akan memakai jasa pengamanan,'' tuturnya. (*)