[ Senin, 06 Oktober 2008 ]
Wall Street Cemaskan Ekonomi AS
Penandatanganan persetujuan program bailout (penjaminan atau penyelamatan lewat dana talangan) senilai USD 700 miliar tidak membawa sentimen positif di pasar. Buktinya, indeks Wall Street ditutup merah. Bahkan, indeks Wall Street pekan lalu tercatat yang terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Para investor ragu bailout mampu menyelamatkan pasar kredit dan menghentikan resesi yang melanda AS.
Pada awal perdagangan, indeks Wall Street sempat menguat. Pemicunya adalah ditekennya bailout di Kongres AS dan upaya pembelian saham Wachovia Corp. oleh Wells Fargo & Co. Tapi, indeks langsung terkoreksi tajam saat pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Lalu, investor fokus untuk menghadapi ekonomi AS yang masih bermasalah dan menunggu implementasi UU bailout.
Pada perdagangan Jumat (3/10), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 157,15 poin (1,50 persen) dan ditutup 10.325,70. Nasdaq juga melemah 29,33 poin (1,48 persen) dan ditutup 1.947,39. Lalu, S&P 500 turun 15,04 poin (1,35 persen) ke level 1.099,24. Ini kali pertama dalam empat tahun terakhir indeks S&P ditutup di bawah 1.100.
Laporan angka pengangguran di AS juga memberi indikasi bahwa negara adidaya tersebut diterpa resesi. Berdasar data, angka pengangguran di AS September lalu 159 ribu orang. Itu berarti angka pengangguran naik berturut-turut dalam sembilan bulan terakhir dan mencapai level terburuk dalam lebih dari lima tahun terakhir.
''Banyak kekhawatiran menciptakan volatilitas. Orang takut bahwa bailout tidak bisa menyelesaikan masalah di pasar kredit,'' kata Anthony Conroy, head trader BNY Convergex, afiliasi dari Bank of New York. ''Data ekonomi dalam beberapa hari terakhir ini sangat buruk dan outlook pendapatan juga tidak menggembirakan. Kita bisa mengatasi satu masalah dengan dana talangan. Tapi, tidak ada lagi yang bisa diharapkan,'' lanjutnya.
Tingkat suku bunga LIBOR tiga bulanan dalam USD, yang menjadi suku bunga acuan bagi industri perbankan, merangkak naik hingga 4,33375 persen. Itu level tertinggi sejak Januari.
''Perekonomian akan ambruk jika paket (bailout) tidak ada,'' ujar John Ogg, analis website keuangan, 24/7 Wall Street. ''Tapi, perekonomian masih akan memburuk dan memasuki resesi. Bailout mungkin tidak cukup menyelamatkan ekonomi dan bahkan mungkin sudah terlambat.'' (RTR/AFP/aan/dwi)