[ Jum'at, 17 Oktober 2008 ]
Membangun Hospitality Intelligence
Oleh Audifax Prasetya *
Membaca wawancara Jawa Pos dengan Imam Samudra, Amrozy, dan Ali Gufron (Jawa Pos, 5 Oktober 2008), tersirat kengerian dan pertanyaan besar, ''Bagaimana nasib perbedaan?"
Saya mencoba tak hanya melihat dari sisi apa yang dikemukakan Imam Samudra cs, tapi juga bagaimana pihak lain pun akan dengan nyalang menatap penuh kebencian membaca transkrip wawancara tersebut.
Sebelum wawancara itu pun, peristiwa bom Bali sudah menimbulkan luka bagi masyarakat Bali. Luka yang berpotensi membuat mereka mengapresiasi muslim tidak seperti dulu lagi, setidaknya pada golongan muslim tertentu.
Lalu, kita juga melihat bagaimana orang-orang Australia begitu sakit hati. Keramahan terhadap perbedaan, agaknya, adalah sesuatu yang akan semakin hilang. Apa yang bisa kita lakukan agar tak muncul Amrozy-Amrozy baru? Apa yang bisa kita lakukan agar satu sama lain bisa ramah terhadap perbedaan?
Fenomena itu mesti lebih dahulu disadari sebagai dampak berkembangnya egosentrisme. Orang tak dapat put himself in other people's shoes dan percaya apa yang mereka ketahui juga diketahui oleh orang lain.
D.H. Lawrence menengarai bahwa fenomena tersebut juga dipengaruhi pendidikan formal dan pendidikan dalam masyarakat modern. Dalam hal ini, manusia dibentuk menjadi abdi sesuatu di luar dirinya, entah itu doktrin-doktrin politik, ekonomi, maupun agama, sehingga gagal memberikan pemahaman akan my own pure self yang tahu bagaimana hidup tanpa perbandingan atau estimasi terhadap liyan (others), yang disadari sebagai sesuatu yang murni berada di luar dirinya dan memiliki hak hidup sesuai kekhasannya.
Kemampuan memahami diri sejati dan memahami atau mengakui keliyanan inilah yang ingin saya sebut sebagai hospitality intelligence, yaitu keterbukaan tanpa syarat terhadap keberbedaan.
Dalam hospitalitas, individu hanya "menyapa dan tersenyum" serta merasakan apa yang berbeda antara dirinya dan liyan, namun tidak berusaha meletakkan perbedaan itu dalam konstruksi dunianya sendiri, yang artinya, menjadikan liyan sebagai alter egonya, dan jika tidak mau (atau tidak bisa) maka seketika dianggap musuh.
Hospitality intelligence mesti dibentuk sejak masa anak-anak karena fondasi kecerdasan anak terbentuk sebelum memasuki usia 12 tahun. Setelah usia tersebut, anak memasuki masa remaja dan mulai mengintegrasikan kecerdasannya dengan pembentukan konsep diri, termasuk bagaimana dia mengolah keberbedaan. Jadi, hospitality intelligence sudah mesti diajarkan jauh sebelum anak memasuki usia remaja. Semakin dini semakin baik.
Mengembangkan
Bagaimana cara mengembangkan hospitality intelligence? Antara lain, dengan tak semata mengajarkan benar-salah kepada anak menurut paradigma berpikir tertentu.
Anak-anak, misalnya, mesti diajari juga menerima dan ramah terhadap pemikiran yang berada di luar paradigma, bahwa pikiran mereka bukan yang paling benar dan satu-satunya jalan memahami realita.
Lirik-lirik lagu When the Children Cry dari White Lion mungkin bisa menginspirasi bagaimana kita harus membentuk hospitality intelligence kepada anak-anak:
When the children cry/ Let them know we try/ 'cause when the children fight/ Let them know it ain't right/ When the children pray/ Let them know the way/ 'cause when the children sing/ then the knew world begin.
Saat anak-anak merasa berbeda dari temannya dan bertengkar karena perbedaan itu, ajari mereka mencapai suatu titik rasa yang membawa mereka kepada pengetahuan bahwa bertengkar karena perbedaan bukanlah sesuatu yang tepat. Begitu pula ketika anak-anak berdoa, ajarkan kepada mereka bahwa doa adalah sebuah ketulusan keinginan dan bukan persoalan siapa paling benar menurut ajaran agamanya.
Saya menemukan apa yang diajarkan di sebuah sekolah dasar di Jimbaran, Bali, bisa menjadi contoh pembentukan hospital intelligence. Di sekolah itu, murid-muridnya diajak merasakan apa yang dilakukan teman-temannya dari umat yang berbeda. Nonmuslim diajak berbuka puasa selama sebulan penuh puasa. Saat Natal dan Paskah, non-Nasrani diminta menyanyikan satu lagu Nasrani untuk teman Nasrani saat momen perayaan bersama.
Mereka juga diajak melakukan kegiatan dari teman-teman agama lain, seperti Waisak, Galungan, dan Nyepi. Tujuannya di sini adalah bukan memahami atau memperbandingkan, melainkan merasakan keberadaan antara.
Pendidikan yang membentuk hospitality intelligence memang tak akan seketika memberikan hasil. Mungkin, membutuhkan tiga generasi atau lebih untuk memetik hasilnya. Bahkan, Tuhan pun tak menciptakan dunia dalam sehari. Tetapi, kita harus tetap optimistis dan terus berusaha. Dan di akhir tulisan ini, izinkanlah saya melantunkan bagian lain dari When the Children Cry yang bisa menjadi lagu nina bobo baru bagi anak-anak kita:
Little child, you must showed the way/ to a better day for all the young/'cause you were born for the world/ to see that we're all can live with love and peace
*Audifax Prasetya
, research Director of SMART Center for Human Re-Search & Psychological Development, Surabaya, Indonesia