[ Rabu, 05 November 2008 ]
Pemilih Jenuh, Golput pada Pilgub Jatim Putaran Kedua Mencapai 46 Persen
Kenyataan di lapangan, pilgub putaran kedua ini tak semarak putaran pertama Juli lalu. Hal itu bisa dilihat dari tingkat partisipasi publik yang menurun drastis.
Lingkaran Survei Indonesia mencatat angka golput pada pilgub putaran kedua naik dari 38 persen pada putaran pertama menjadi 46 persen. Sementara itu, Lembaga Survei Indonesia mencatat 45,56 persen pemilih ogah datang ke TPS.
Direktur Riset Lingkaran Survei Indonesia Eka Kusmayadi menyatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan angka golput naik. Salah satunya, adanya beberapa pasangan calon yang gugur pada putaran pertama.
Dia menuturkan, ada banyak pemilih fanatik pasangan yang akhirnya memutuskan tidak memilih salah satu di antara kedua pasangan yang bertarung di final. Para pemilih fanatik itu, kata Eka, memutuskan tidak memilih karena kedua calon dianggap tidak seperti yang mereka inginkan.
Hal senada diungkapkan Manajer Riset Lingkaran Survei Indonesia Rudi Ruswadi. Menurut dia, faktor yang memengaruhi kenaikan angka golput adalah kurangnya sosialisasi terhadap pemilih. Hal itu, kata dia, membuat para pemilih merasa cukup memilih pada putaran pertama saja. ''Putaran kedua dianggap kurang penting bagi mereka,'' ujarnya.
Dia menuturkan, ada satu lagi kemungkinan penyebab naiknya golput. Yakni, kejenuhan pemilih. Dia menengarai, banyaknya pelaksanaan pemilihan membuat para pemilih semakin enggan. Apalagi, mulai muncul ketidakpercayaan terhadap lembaga pemilihan. ''Tapi, ini masih kemungkinan. Belum melalui penelitian,'' katanya.
Pantauan Jawa Pos di beberapa TPS memang menunjukkan rendahnya gereget publik untuk menggunakan hak pilihnya. Bahkan, beberapa TPS yang idealnya ramai malah terlihat sepi. Misalnya, TPS 26 Keputran, Surabaya, yang notabene bersebelahan dengan kantor KPU Jatim.
Di sana, di antara total 496 pemilih, yang hadir hanya 192 orang. Sisanya tidak muncul. Demikian pula di TPS 8 Kutisari, Surabaya. Di antara 288 pemilih yang terdaftar, hanya 144 orang yang hadir atau separo persis.
Di TPS Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, lebih parah. Empat TPS disediakan untuk 1.360 pemilih. Meski demikian, calon jamaah haji yang mulai masuk asrama kemarin yang mencoblos hanya 646 orang (47,5 persen). Sisanya 52,5 persen memilih golput.
Tidak jauh berbeda dari Kelurahan Tegalsari, Surabaya. Berdasar data di KPU, terdapat 14.359 pemilih. Namun, warga yang datang untuk menyalurkan aspirasinya hanya 5.809 orang. Sisanya 8.550 orang memilih golput. Tingkat partisipasi itu masih diperparah oleh jumlah surat suara yang tidak sah yang mencapai 340 surat suara.
Contoh lain terjadi di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya. Di antara 23.989 DPT yang ditetapkan KPU, hanya 8.477 orang yang mendatangi TPS. Sisanya 15.512 orang memilih tidak hadir ke bilik suara.
Masyarakat, tampaknya, lebih banyak memilih beraktivitas lain pada hari yang diliburkan untuk pencoblosan itu. Salah satu tempat yang banyak dikunjungi adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Misalnya, yang dilakukan Sunardi kemarin. Warga Rungkut tersebut sejak pukul 08.00 terlihat berada di halaman parkir KBS. Dia bersama istri dan kedua anaknya.
Padahal, pada jam tersebut, seharusnya dia berada di bilik suara untuk mencoblos. Namun, dia malah memilih rekreasi ke kebun binatang. Saat ditanya, Sunardi membenarkan bahwa dirinya golput. Sayangnya, saat ditanya alasannya, dia hanya menjawab singkat. ''Males, Mas,'' ujarnya. (aga/ris/eko/nw)