Kamis, 02 September 2010
 
  Internasional
[ Rabu, 27 Mei 2009 ]
Politisi Gay dan Lesbian Indonesia Butuh Pelopor
Di berbagai belahan dunia, kaum "liyan", terutama homoseksual, kian mendapatkan kepercayaan publik. Bagaimana di Indonesia? Berikut petikan wawancara dengan Dr Dede Oetomo, pendiri GAYa Nusantara, organisasi pertama yang mengayomi kaum homoseksual.

---

Jabatan publik di banyak negara diduduki oleh mereka yang selama ini banyak dipinggirkan, terutama gay dan lesbian. Apa yang mendorong lahirnya fenomena ini?

Fenomena ini merupakan konsekuensi logis kian tingginya penghargaan terhadap HAM. Hambatan untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua manusia kian tereduksi. RUU yang mengatur diizinkannya perkawinan sejenis juga sudah ada di banyak negara. Maka, kemajuan selanjutnya adalah pengakuan di bidang kepemimpinan. Bisa dibilang, apa yang terjadi sekarang sudah lebih cepat daripada yang dibayangkan. Dulu tidak ada kaum homoseksual yang berani bermimpi menikah, bahkan mengadopsi anak.

Apakah kepemimpinan mereka bakal menghadirkan sesuatu yang berbeda jika dibandingkan dengan yang lain?

Tidak ada yang istimewa dan tidak ada bedanya. Mereka menjalankan pemerintahan berdasar kemampuan. Mereka bisa dibilang dapat memisahkan antara pemikiran ilmu pengetahuan dan primordialisme. Oleh sebab itu, pemimpin yang berasal dari kaum gender ketiga itu lebih banyak muncul di negara yang memisahkan urusan negara dengan agama.

Apa dampak munculnya banyak pemimpin publik dari kaum gay dan lesbian itu bagi kaum lain yang selama ini juga terpinggirkan?

Sebagai penyemangat dan contoh. Mereka (yang telah sukses) bisa saja bertindak pasif hanya dengan memberikan bantuan (dana). Namun, banyak juga yang memilih aktif dengan mendorong mereka yang sering terpinggirkan masuk ke dalam proses politik. LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) sudah menang, tetapi belum aman.

Bagaimana di Indonesia? Mungkinkah ada perwakilan dari gender ketiga yang bisa mendapatkan kepercayaan memegang jabatan publik?

Indonesia itu sebenarnya bagus karena begitu merdeka, langsung memberikan hak suara bagi siapa saja. Namun, kultur keterbukaan di sini belum seperti di negara-negara Barat. Saya rasa, saat ini Indonesia masih jauh untuk dapat mencapai ke arah sana. Namun, politik itu kompromi. Ada beberapa partai politik yang mulai mendekati kaum gender ketiga.

Tapi, ada tidak politisi yang sudah eksis di Indonesia yang sebenarnya gay atau lesbian, namun belum berani membuka diri?

Oh, ada. Saya tahu beberapa (tidak menyebutkan nama). Mereka belum berani membuka diri karena takut kehilangan kepercayaan publik. Butuh pelopor dari seseorang yang sudah terbukti sukses menjalankan tugas sebagai pejabat publik. (war/ttg)