Kamis, 02 September 2010
 
  Internasional
[ Rabu, 27 Mei 2009 ]
Ketika Dunia Kian Hangat Memeluk Kaum Liyan
Perubahan Sedahsyat Ledakan Bom

UNTUNGLAH tak ada lagi Adolf Hitler. Kalau tidak, tak mungkin seseorang seperti Klaus Wowereit bisa menjadi orang nomor satu di Berlin. Betapa tidak. Jelang pemilihan wali kota di ibu kota Jerman itu delapan tahun silam, Wowereit dengan yakin mengumumkan kepada publik kalau dirinya homoseksual.

Di era Hitler, homoseksual adalah "penyakit masyarakat" yang setara dengan cacat fisik, karenanya harus diberantas. Tapi, pengalaman pahit di era Hitler telah mendewasakan Jerman. Wowereit yang dengan lantang bersuara, "Saya gay dan itu baik," malah keluar sebagai pemenang.

Wowereit mengakui, keputusan untuk membuka identitas orientasi seksualnya itu dipicu oleh pemberitaan sebuah tabloid Jerman. Tabloid itu sudah curiga kalau politikus 55 tahun itu gay. "Daripada saya dihajar di media, lebih baik saya jujur membuka selubung diri saya," katanya seperti dikutip di situs pribadinya.

Apapun motifnya, warga Berlin mengapresiasi kejujuran Wowereit itu. Mereka yakin, kejujuran adalah modal sangat penting bagi seorang pejabat publik. Keyakinan yang sama ditunjukkan publik Islandia.

Pada 1 Februari lalu, negeri Skandinavia itu resmi melantik Johanna Sigurdardottir sebagai perdana menteri. Jadilah perempuan 66 tahun itu pemimpin pemerintahan/negara pertama dari kalangan homoseksual. Ya, sempat berkeluarga dan punya dua anak, mantan pramugari itu menikahi Jónína Leósdóttir, seorang perempuan penulis, pada 2002.

Klaus Wowereit dan Johanna Sigurdardottir: mereka adalah contoh terbaik betapa dunia kian hangat memeluk kaum "liyan." Yakni, kaum yang selama ini terpinggirkan, entah karena orientasi seksual, warna kulit, asal usul, ataupun kepercayaan yang dianut.

Bukti lain kehangatan itu bisa ditemukan di Philadelphia. Pada 22 Mei lalu, kota bekas pusat gerakan antikulit berwarna, Ku Klux Klan, itu memilih untuk kali pertama wali kota berkulit hitam, James A. Young. Meski hanya unggul 46 suara dari pesaing terdekatnya yang berkulit putih, Rayburn Waddell, kemenangan Young itu mengirimkan pesan jelas kalau kota yang 55 persen dari total 8.000 penduduknya berkulit putih itu telah berubah. Philadelphia di 2009 bukan lagi Philadelphia di 1964 saat tiga pekerja sosial dibunuh Ku Klux Klan. Philadelphia, bagian dari Negara Bagian Mississippi, bukan lagi seperti yang tergambar dalam film Mississippi Burning yang terkenal itu.

"Perubahan ini sedahsyat ledakan bom," kata Young seusai memastikan kemenangan, seperti dikutip CNN.

Dan, ledakan bom serupa juga terdengar di berbagai penjuru planet. Di Bolivia ada Evo Morales, presiden kulit hitam pertama dari suku asli negeri di lereng Pegunungan Andes itu. Di Nepal yang dipenuhi kaum Hindu konservatif, ada Sunil Babu Pant, anggota parlemen pertama negeri itu yang gay. Di Jepang yang warganya kuat memegang tradisi, Kanako Otsuji tak hanya menjadi satu-satunya anggota Parlemen Osaka yang lesbian. Tapi, juga satu dari sedikit saja tokoh publik negeri itu yang dengan bangga bisa melangsungkan pernikahan dengan pasangan sejenisnya.

Mari menengok juga ke Australia. Negeri Kanguru itu memiliki Penelope "Penny" Ying-yen Wong, salah seorang menteri dalam kabinet Perdana Menteri Kevin Rudd yang merupakan keturunan Asia. Dia adalah warga keturunan Asia pertama yang menduduki jabatan publik setinggi itu. Ini sekaligus bukti kalau Australia, negeri para imigran itu, memberlakukan setara semua warganya. Tak ada lagi warga kelas dua.

Apa pemicu fenomena ini? Banyak. Meningkatnya taraf pendidikan, salah satunya. Faktor lainnya, gerak zaman yang kian meniadakan batas-batas teritorial. Identitas pun jadi hal yang sulit ditafsirkan. Bagaimana mengidentifikasi kebangsaan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, misalnya? Orang Kenya-kah dia? Atau Orang Amerika? Dia tak sepenuhnya kulit hitam, dia juga bukan kulit putih. Maka, konyol jika di era saat ini masih ada yang menganggap dirinya atau rasnya sebagai warga kelas satu.

"Yang pasti, semuanya ini menimbulkan harapan," tulis Jim Prince di jurnal Neshoba Democrat. (hep/ttg)