Tak mudah membuka tabir jati diri sesungguhnya, sekalipun itu di negara yang mengagungkan demokrasi. Apalagi, posisinya berkaitan dengan agama. Itu pula yang dialami Rev. Scott Rennie, 37, pendeta Skotlandia. Dia ditentang habis-habisan ketika maju dalam pemilihan pemimpin pendeta di Edinburgh
. Namun, Rennie akhirnya menang mutlak. Dia meraup 80 persen suara di Gereja Queen Cross, Aberdeen.
''Terkadang kau harus mempertahankan apa yang kau percayai,'' kata pria kelahiran Bucksburn, Aberdeen, dan pendukung demokrasi liberal itu seperti dikutip The Independent.
Keputusan yang keluar pada Sabtu (23/5) itu disambut gembira pendukung persamaan hak asasi Skotlandia. Dukungan juga datang dari mantan istrinya, Ruth Rennie. ''Sejak bercerai, saya dan Rennie memelihara pertemanan yang kuat. Kami fokus membesarkan putri kami,'' ujarnya kepada The Times. Scott Rennie memang dikenal sebagai sosok pria yang berdedikasi dan bertanggung jawab.
Namun, sejumlah pihak menentang itu. ''Kami sangat menyesalkan keputusan majelis umum yang mempermalukan nama Tuhan kami Jesus Kristus dan gereja. Ini bukan hanya pelecehan, tetapi juga merusak kemurnian ajaran,'' ujar Rev David Court dan Rev Dr William Philip dari pengakuan Gereja.
Rennie bergeming menghadapi yang kontra. ''Saya tidak bisa menyapu begitu saja orientasi seksualitas saya ke bawah karpet. Saya menerima hal itu menjadi isu yang harus dihadapi demi kesehatan dan kebaikan mereka yang dekat denganku,'' ucap pria satu putri itu yang kini tinggal dengan teman prianya.
Sebelum menjadi pendeta, Rennie mempelajari geografi di University of Aberdeen. Kemudian, dia menempuh pendidikan ketuhanan di Christ's College, Aberdeen. Jabatan asisten pendeta dia jalani selama bertugas di Gereja Queen Cross. Selanjutnya, dia meraih master di Sacred Theology di Union Theological Seminary, New York City. (war/ami)