Selasa, 09 Februari 2010
 
  Ekonomi Bisnis
[ Rabu, 17 Juni 2009 ]
Siti Retnanik "Jutawan Daun Kering" Raup Rp 50 Juta Per Bulan
Kalau Anda menemukan daun kering yang bentuknya unik, jangan buru-buru dibuang atau dibakar. Sebab, dengan sentuhan seni dan kreativitas, daun-daun tersebut bisa mendatangkan uang puluhan juta rupiah.

---

Mahalnya daun kering itu dibuktikan oleh Siti Retnanik, 51, pemilik Bengkel Kriya Daun 9996. Hasil karya istri dari (alm) Heri Wibawanto ini tidak hanya dijual di Indonesia. Tapi juga diekspor ke Perancis, Inggris, Jerman, dan Belanda. Bermodal Rp 100 ribu, uang pensiunan sang suami, kini omzet usaha Siti Retnanik melesat bak roket, mencapai sekitar Rp 50 juta per bulan. Dengan kapasitas produksi tiga ribu item per bulan. ''Ini semua berawal dari kebiasaan suami mengumpulkan daun-daun kering,'' katanya saat diwawancarai di stan miliknya di Royal Plaza, Surabaya, seminggu lalu.

Dikisahkan oleh wanita yang kerap dipanggil Nanik ini, sebelumnya dia memiliki usaha katering bernama Mila Sari. Lulusan Sekolah Kejuruan Putri di Jember ini memang memiliki kepandaian memasak. Sudah tak terhitung berapa kali dia memenangi perlombaan memasak. Dari tingkat RT (rukun tetangga) sampai tingkat nasional. Ibu tiga anak ini juga sering mengasuh rubrik memasak di tabloid-tabloid seperti Nyata dan Lezat.

Sampai suatu ketika, usahanya mendapat musibah. Niatnya ingin mencoba bisnis lain, tapi mereka malah tertipu habis-habisan. Bahkan sampai kehilangan rumah. Sehingga kemudian bisnis katering berhenti total. Tidak lama setelah itu, tahun 1997, suaminya pensiun.

Lalu, pada suatu kesempatan mereka nonton pameran kerajinan. Melihat produk kerajinan dari kulit jagung, suaminya berujar,''Kalau saja daun bisa dibuat seperti ini (kerajinan kulit jagung, Red), pasti sangat prospek.''

Sejak itu, dibantu suaminya , Nanik mempelajari berbagai karakter daun dan berhasil menyulap sampah itu menjadi hiasan berharga. Dia bersama suami nekad nyemplung mendirikan Bengkel Kriya Daun 9996.

Usaha Bengkel Kriya Daun 9996 berkembang pesat ketika Heri mendapat kesempatan mewakili Jawa Timur mengikuti pameran di Den Haag, Belanda. Sejatinya pameran tersebut berlangsung seminggu. Tapi baru dua hari, lima koper barang dagangannya ludes terjual. Jadi sisa empat hari digunakan olehnya untuk jalan-jalan memperkaya ide. ''Waktu itu kami dapat uang Rp 7 juta dari pameran itu,'' ucapnya.

Semakin mantaplah Heri dan Nanik menekuni bisnis ini. Tahun 2000, melalui sebuah pameran, mereka mendapat pembeli dari Perancis. Lalu setelah itu tahun 2002, produknya dijual di Inggris. Waktu itu pemesanan belum begitu banyak, sekitar 100 ribu-500 ribu produk. Mulailah dia merekrut karyawan.

Sekarang, Nanik memiliki 40 karyawan. Sepeninggal suaminya tahun 2005, usahanya diteruskan oleh anak-anaknya. Merekalah yang kini membantu. Untuk memperluas pasar dan memudahkan dalam melakukan operasional, kini Bengkel Kriya Daun 9996 menjadi sebuah CV.

Dikatakan oleh Nanik, saat ini mulai banyak pesaing. Bukan dari dalam negeri melainkan dari negara lain seperti Tiongkok dan Jepang. Produk mereka. Kata dia, harganya lebih murah. "Agar tetap memiliki market, saya harus bereksplorasi dengan ide. Dan, terus menciptakan produk dan desain baru," ujarnya. (jan/kim)

Tentang Bengkel Kriya Daun 9996

Berdiri : 9 September 1996 (9996)

Produksi : Kerajinan dari daun kering

Lokasi : Ngagel Mulyo XV 23A Surabaya

Karyawan : 40 orang

Kapasitas produksi : 3.000 item per bulan

Omzet : Rp 50 juta/bulan

Pasar local : Jawa Timur, Bali, Kalimantan, dan Jakarta

Pasar ekspor : Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, Australia, Malaysia, dan Korea