Kamis, 02 September 2010
 
  Berita Utama
[ Senin, 10 Agustus 2009 ]
Di Surabaya, 16 Orang Pengikut Setia
Tak salah jika tim Densus 88 Antiteror kini menjadikan Surabaya sebagai salah satu daerah incaran. Sebab, dari sumber Jawa Pos di Mabes Polri, di Surabaya cukup banyak sosok yang diduga merupakan sel-sel Noordin. Se­tidaknya ada 16 orang yang disebut-sebut menjadi downline Noordin M. Top yang diindikasikan masih aktif.

"Dari semua nama itu, delapan di antaranya masih di penjara. Tapi, mereka sudah punya jari­ngan yang tetap menjalankan aktivitas mereka," kata sumber Jawa Pos yang wanti-wanti namanya dirahasiakan.

Bahkan, polisi masih menduga bahwa para sel ini tetap aktif mencari bibit-bibit baru untuk bisa direkrut dalam jaringan mereka. Hanya, tekniknya berbeda.

Sumber itu lantas menyebutkan beberapa nama jaringan Noordin yang diduga masih aktif. Mereka antara lain Ahmad Basir, Chotib bin Koderi, Ahmad Arif Hermansyah, serta Abu Fida. Empat nama ini juga mendapat perhatian khu­sus dari polisi. Sebab, mereka kini sudah bebas dari penjara.

Ahmad Basir, misalnya. Dia pernah ditangkap polisi karena di­duga membawa bahan peledak bagi kelompok Noordin menjelang pengeboman kantor Kedubes Australia pada 2004. Nama ini juga disebut polisi sebagai salah satu kurir penghubung Noordin de­ngan jaringannya.

Sejak 2006, jaringan ini sudah jarang menggunakan kontak telepon. Mereka lebih banyak menggunakan jasa kurir. "Nah, Basir adalah kurir pertama yang dipakai saat sistem ini diterapkan. Dia juga menjadi kurir saat Noordin menikah dengan Munfiatun di Pasuruan," kata sumber tersebut.

Nama Ahmad Arif Hermansyah juga mendapat perhatian polisi setelah lepas dari penjara. Saat itu dia disebut menjadi salah seorang yang kerap memberikan fasilitas bagi Noordin dan Dr Azhari saat berada di wilayah Jatim.

Aktivitas Chotib bin Koderi juga terus diintai meskipun sudah jarang terdengar terlibat dalam sindikat bom. Warga Jl Karang Poh ini pernah ditangkap polisi ka­rena dianggap terlibat dalam sindikat bom Bali I. Saat itu dia berperan sebagai penyimpan bahan peledak di hutan Ndadapan, Bluru, Lamongan. Dia bebas pada 2006.

Bukan hanya itu. Polisi juga masih mengawasi jaringan sel-sel Noordin di Surabaya yang kini mendekam di penjara. Setidaknya ada delapan nama sel Noordin asal Surabaya yang dibui. Mereka, antara lain, Arif Saifudin (warga Wono­kromo), Syahrul Umam (warga kawasan Simo), dan Ismail (tinggal di kawasan Kedinding Lor). "Meski ada di penjara, mereka diduga sudah memiliki jaringan baru hasil kaderisasi," kata sumber itu.

Arif ditahan karena pernah mencarikan tempat tinggal bagi duet Noordin dan Azhari. Syahrul Umam ditangkap karena menyimpan bahan peledak di kediamannya. Sedangkan Ismail adalah salah satu aktor penting dalam aksi bom Marriott jilid I pada 2003 lalu. Dialah salah satu tim yang ikut me­rencanakan aksi pengeboman.

Nah, jaringan-jaringan baru inilah yang kini juga menjadi perhatian polisi. Sayangnya, sumber itu belum bersedia menjelaskan detail keberadaan mere­ka. "Pokoknya, mereka masih ada di Surabaya dan sekitarnya," katanya. (ris/kuh/dan/kum)