GUNCANGAN gempa kemarin membuat belasan rumah di kaki Gunung Hanafi, tepatnya di Kampung Rawa, Desa Pamoyanan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tertimbun tanah longsor. Sekitar 50 orang dilaporkan hilang. Hingga pukul 23.00, baru ditemukan 10 orang meninggal dunia dan 2 kritis.
Menurut informasi yang dihimpun koran ini, 12 kepala keluarga (KK) diduga masih tertimbun. Saat gempa terjadi, masing-masing berada di dalam rumahnya. ''Peristiwa longsor terjadi setelah gempa hebat terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Kami langsung menuju lokasi longsor. Tercatat 12 rumah yang tertimbun oleh tanah dari atas Gunung Hanafi," kata Sulaeman, kepala Desa Pamoyanan, saat dihubungi lewat telepon selulernya kemarin.
Hingga kini, Sulaeman masih belum bisa mencatat identitas para korban karena kondisi lokasi sangat mengkhawatirkan. ''Kami baru menemukan beberapa tubuh manusia yang diduga anggota 12 KK itu," ujarnya.
Pada saat kejadian, belasan anak tengah bermain video di tempat penyewaan Play Station. ''Kata warga, sebagian anak yang tengah bermain PS diduga tewas," ujar Asep Juanda, salah seorang warga Cibinong.
Pria berusia 37 tahun itu menyebutkan, untuk mencapai lokasi, perjalanan harus ditempuh dengan mengendarai roda dua. Jalan menanjak dan menurun. Perkampungan terletak di sebelah barat Gunung Hanafi yang longsor. Areal yang tertimbun longsor seluas 2 hektare dengan ketinggian tanah mencapai 100 meter. Tidak ada satu pun rumah yang terlihat karena tertimbun longsoran tanah. ''Hampir semua korban ditemukan dalam kondisi mengkhawatirkan," tuturnya.
Sementara itu, karena gempa 5 menit berturut-turut yang mengguncang wilayah Cianjur, hampir dapat dipastikan ada kerusakan infrastruktur bangunan. rumah dinas Asper BKPH Sindangbarang Cianjur selatan dikabarkan ambruk. Diduga bangunan tersebut berdiri dekat pantai Samudera Hindia, dekat pusat gempa, tepatnya di pantai selatan Tasikmalaya.
''Saya kebetulan berada di Sindangbarang. Satu rumah dinas Asper BKPH Sindangbarang yang dihuni Pak Edhi Jaya Wiguna ambruk," kata staf Bagian Humas Perum Perhutani KPH Cianjur Sumarna. Selain bangunan dinas, tembok depan sebuah toko di kawasan itu juga ambruk. Warga pun berlarian ke luar rumah. ''Air laut sendiri masih tenang dan tidak ada perubahan. Kami yang tengah melakukan kunjungan kerja sangat terkejut karena takut ada tsunami," ungkapnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur Muhammad Darojat Ali saat dihubungi membenarkan adanya peristiwa gempa berujung longsor di wilayah Cianjur selatan. Namun, pihaknya belum bisa memastikan jumlah korban meninggal dunia karena gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter tersebut. ''Kami langsung berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Kami juga akan langsung mengecek ke lapangan," ucap Darojat. (nag/jpnn/iro)