Jum'at, 03 September 2010
 
  Berita Utama
[ Kamis, 24 September 2009 ]
Rem Blong, Rangkaian KA di Stasiun Lawang Tabrak Toko
Satu Tewas, Tujuh Gerbong Terguling

MALANG - Selang tiga pekan tergulingnya tiga gerbong kereta api (KA) di Desa Banjararum, Singosari, yang menewaskan seorang pada Jumat lalu (4/9), peristiwa serupa terjadi di Stasiun Lawang kemarin (23/9). Rangkaian KA dengan 17 gerbong bahan bakar minyak (BBM) kosong menyeruduk toko perlengkapan sablon yang berada di utara stasiun.

Tujuh gerbong serta lokomotif terlepas dari rangkaian dan terguling. Seorang meninggal dalam peristiwa itu dan tujuh orang mengalami luka-luka. Dugaan awal, peristiwa itu dipicu rem lokomotif bernomor CC 20109 tidak berfungsi dengan baik alias blong. Anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan menyelidiki kasus kecelakaan itu.

Hingga berita ini diturunkan, korban meninggal belum bisa diketahui karena tidak ditemukan identitasnya. Namun, dugaan kuat, pria berusia sekitar 30 itu adalah petugas lapangan kereta api (PLKA) yang mengawasi keamanan rangkaian gerbong.

Sementara itu, tujuh korban luka, antara lain, dua awak KA yang bertugas sebagai PLKA. Mereka adalah Devi, 27, dan Juremi, 30. Keduanya kini dirawat di RS Brawijaya, Desa Sumberwaras, Lawang.

Lima korban luka lainnya adalah penumpang KA. Yakni, M. Yunus, 19; M. Firdaus, 24; Mashudi, 25; dan M. Siswoyo, 27. Keempatnya adalah kakak beradik yang hendak mudik gratis ke Pasuruan. Korban terakhir adalah Tumaji, 45, warga Pasuruan, menderita luka bakar di wajah, tangan, dan kaki.

Hingga petang kemarin, proses identifikasi korban dan evakuasi gerbong KA yang posisinya tumpang tindih masih dilakukan petugas gabungan dari PT KAI Daops 8 Surabaya, Polres Malang, dan Polwil Malang. Polisi masih kesulitan mengetahui kronologi kecelakaan karena masinis Suparmanto, 47, dan asistennya, Heriyanto, 40, masih shock dan memilih pulang ke rumahnya di Sidotopo Wetan, Surabaya.

Berdasar keterangan saksi mata, kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 13.05. Saat itu, KA yang berawak lima orang itu meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah selatan. ''Perkiraan saya, kereta melaju dengan kecepatan di atas 60 km per jam. Saya sampai kaget, kok ada KA yang ngebut di jalur satu,'' kata Brigadir Cristian, anggota Brimob Kompi C Ampeldento, Malang, yang melakukan pengamanan di Stasiun Lawang.

Umumnya, KA yang melintas di jalur satu mengurangi kecepatan karena harus berhenti untuk menurunkan penumpang atau pengecekan kondisi rangkaian gerbong KA. Sejurus kemudian terdengar suara keras KA menabrak pembatas pemberhentian darurat KA. ''Loko itu menerjang gundukan dan masuk tembok toko,'' kata Cristian yang saat kejadian duduk di kursi ruang tunggu.

Selain itu, dia melihat tujuh tangki BBM terguling dan tumpang tindih. Gerbong KA menutup akses pintu masuk Jl Ngamarto dan menghancurkan gapura serta papan nama jalan. Dia melihat ada korban yang terluka dan terpental dari gerbong. Bahkan, ada seorang korban meninggal karena tertindih gerbong BBM. Satu lagi, penumpang mengalami luka bakar di bagian wajah karena terkena semburan api.

Kepala Stasiun KA Lawang Mawan Novianto mengatakan, ketika melihat KA tangki BBM melaju di jalur satu dengan kecepatan tinggi, petugas telah berupaya menghentikan dengan mengibarkan bendera merah. Namun, langkah itu tidak dihiraukan. ''KA terus melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak lama kemudian terjadi tabrakan,'' ujar Mawan.

Mawan menduga, rem KA itu blong. Melihat kecepatan KA cukup tinggi, diduga rem blong sebelum tiba di Stasiun Lawang. ''Bisa jadi, blong di pertengahan Singosari dan Lawang,'' katanya. Laju KA semakin tinggi juga dipengaruhi posisi rel menurun.

Dia menjelaskan, aturan yang selama ini diterapkan, setiap KA yang masuk ke Lawang wajib berhenti sejenak di lintasan spoor box (pembatas pemberhen­tian darurat KA) untuk menjalani pengecekan. Saat mengetahui akan ada KA BBM yang lewat, PPKA (pimpinan perjalanan kereta api) selalu mengalihkan ke jalur spoor box.

Berikutnya, petugas berdiri di dekat jalur itu dan mengibarkan bendera merah tanda KA harus berhenti. Setelah berhenti sekitar lima menit, masinis baru boleh melanjutkan perjalanan sesuai dengan rute yang dituju. Di spoor box itu hanya ada satu jalur rel sepanjang kurang lebih 500 meter yang di ujung lintasan terdapat gundukan batu bata dan bantalan rel setinggi kurang lebih 2 meter.

Bantalan itu dipasang untuk mengantisipasi KA lain yang remnya blong dan bisa digunakan sebagai jalur penyelamatan. ''Hanya, bantalan penghadang itu tidak mampu menahan laju KA hingga akhirnya jebol dan KA menerobos tembok toko yang berada di belakang gundukan,'' jelas Mawan.

Sementara itu, keluarga pemilik toko yang diterjang lokomotif, Afan M. Jubair, 40, mengatakan bahwa toko tersebut dikelola oleh adiknya, Azam M. Jubair. ''Sejam sebelum kejadian adik saya baru tutup toko untuk istirahat siang. Dia (Azam, Red) belum tahu kejadian ini,'' kata Afan saat ditemui di lokasi kejadian.

Afan terheran-heran melihat tembok tokonya bolong di sisi selatan. Berulang-ulang dia geleng-geleng melihat pemandangan di depannya. ''Kok bisa ya, lokomotif itu nyelonong ke toko,'' katanya. Dia merasa beruntung karena biasanya adiknya buka toko hingga sore. (mas/bb/ziz/jpnn/iro)