TUBAN - Acara ziarah Wali Sanga jamaah Musala Nurul Jannah, Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Probolinggo, berakhir duka. Kemarin pagi sekitar pukul 08.15 WIB bus Medali Mas Nopol N 7141 UA yang membawa 60 jamaah itu bertabrakan dengan truk gandeng Varia Usaha (VU) bermuatan 35 ton semen di Jalan Tuban-Semarang Km 21-22.
Akibat kecelakaan di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, Tuban, tersebut, delapan korban tewas di lokasi kejadian, lima orang luka berat, dan tujuh luka ringan. Seluruh korban adalah penumpang dan awak bus Medali Mas. Mereka kini dirawat di RSUD dr R Koesma, Tuban. Korban tewas adalah Yunus, 6; Kholifah, 20; Faisol, 17; H Abdul Kalim, 65; Mistiah, 45; Atmuh, 60; Lagimin, 65; dan Nur Fadilah, 30. Sedangkan sopir bus Karnadi, 33, menderita luka.
Ada dua versi penyebab kecelakaan di jalur pantai utara (pantura) Tuban tersebut. Abu Hasan, 42, saksi mata di tempat kejadian perkara (TKP) kepada wartawan koran ini menerangkan, kecelakaan tersebut dipicu meletusnya ban sebelah kanan depan gandengan truk VU Nopol W 9644 VA yang melaju dari arah Semarang menuju ke Tuban.
Saksi yang saat itu berada persis di depan rumahnya dan berjarak sekitar 5 meter dari TKP mengatakan tidak tahu persis berapa ban bak gandengan yang meletus. ''Yang jelas, setelah terdengar bunyi dor, gandengan truk terpelanting dan menghantam bus,'' kata dia.
Menurut dia, bagian kanan bak truk gandengan bergesekan keras dengan bodi kanan bus. Akibatnya, bodi kanan bus robek. Saat bodi kanan bus tercabik disertai hentakan keras, sebagian penumpang yang duduk di sisi kanan tergencet. Selebihnya, terlempar dan terbanting ke aspal.
Setelah bergesekan dengan bus, truk gandengan terguling ke kanan. Posisinya melintang, hampir memenuhi badan jalan. Sedangkan bus Medali Mas dalam posisi serong, menghadap ke barat laut. Separo bodi depan bus berada di jalur lawan (utara jalan).
Versi lain dibeberkan Moyan, 44, pengemudi truk tronton Nopol S 8250 UE yang berada di belakang bus Medali Mas. Dia mengungkapkan, sebelum mendekati titik tumbuk, bus rombongan ziarah Wali Sanga tersebut keluar dari marka jalan dan menyongsong truk gandengan VU yang melintas di jalurnya.
Menurut warga Lamongan itu, ban truk gandengan VU baru meletus saat berbenturan dengan bus. ''Saya tahu karena berjalan di belakang bus,'' ujarnya. Tabri, 40, pengemudi truk gandengan VU yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan kronologi itu. Dia membantah ban kanan depan gandengan truknya meletus terlebih dulu dan memicu terjadinya kecelakaan maut tersebut.
Saat kecelakaan terjadi, sebagian besar penumpang tertidur. Karena itu, tak seorang pun yang mengetahui persis detik-detik terakhir menjelang busnya terkena musibah.
Kecelakaan maut tersebut menyebabkan yang lalu lintas jalur Tuban-Semarang macet total enam jam. Arus lalu lintas kembali lancar setelah dua kendaraan yang terlibat kecelakaan berhasil ditarik menepi ke bahu jalan.
Wakapolres Tuban Kompol Yandri Irsan yang mengomando evakuasi di TKP menegaskan, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut. Menurut dia, minimal dibutuhkan waktu tiga hari untuk memastikan apa saja yang menjadi pemicu kecelakaan itu. ''Kami juga tidak bisa berasumsi tanpa ada bukti data yang konkret,'' tegasnya.
Tim SAR Panca Tunggal (PT) Tuban yang pertama datang ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk evakuasi mendapati tiga korban tewas tergeletak di jalan, persis di belakang bus. Lima korban tewas lainnya tergolek di lantai bus, tertindih kursi dan barang bawaan. Kholifah, 20, dan anaknya, Yunus, 6, tewas di lantai bus dalam posisi berpelukan. Saat musibah terjadi, ibu muda itu diperkirakan secara refleks memeluk buah hatinya untuk melindungi.
Begitu pula Yunus. Dia terlihat memeluk erat ibunya. Evakuasi ibu dan anak itulah yang mengundang haru tim SAR dan masyarakat. Tidak sedikit di antara mereka yang menitikkan air mata. "Saat kami evakuasi, Yunus masih hidup. Namun, sesaat kemudian, dia mengembuskan napas terakhir," tutur Mikan, koordinator SAR PT.
Abdul Rokim, 32, yang ayahnya, Abdul Kalim, 65, ikut tewas dalam kecelakaan itu mengungkapkan bahwa bus yang ditumpangi rombongan jamaah pengajian di kampungnya berangkat pada Sabtu (31/10) pukul 10.00. Setelah sowan ke Ponpes KH Hamid di Tongas, Pasuruan, bus sempat mogok. Beberapa saat diperbaiki, bus bisa dijalankan ke garasi PO Medali Mas di Jalan Medaeng, Sidoarjo. Setelah berganti bus, perjalanan dilanjutkan ke makam Sunan Ampel di Surabaya, serta ke Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim di Gresik.
Berikutnya, rombongan tersebut berziarah ke makam Sunan Drajad di Lamongan, makam Asmaraqandi di Palang, Tuban, dan makam Sunan Bonang di Tuban. Kemarin bus keluar dari Terminal Wisata Kebonsari Tuban sekitar pukul 08.00. ''Semua berjalan biasa. Tidak ada firasat apa pun,'' tuturnya. Kalau tidak terkena musibah, rencananya bus bertolak ke makam Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga di Jawa Tengah. Kemudian, ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon serta ke makam sejumlah aulia di Banten. Ziarah Walisongo menjadi program arisan dalam kelompok pengajian di desa tersebut.
Tabrakan Rombongan Mentan
Rombongan Menteri Pertanian (Mentan) Ir H Suswono MMA mendapat musibah saat kunjungan kerja kemarin (1/11). Iring-iringan mobil rombongan Mentan mengalami kecelakaan karambol di ruas Jalan Raya Slawi-Jatibarang -tepatnya di Desa Dukuhwaru, Kecamatan Dukuhwaru, Tegal- sekitar pukul 12.30.
Di antara sepuluh mobil yang mengangkut rombongan, tiga unit mengalami kecelakaan karambol. Yakni, satu unit mobil Kijang Innova dan dua bus. Musibah itu terjadi saat rombongan Mentan melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Tegal dan hendak ke Brebes. Beruntung, tidak ada korban dalam insiden itu.
Kerusakan terparah akibat tabrakan itu dialami mobil Kijang Innova nomor polisi B 108 RFS yang ditumpangi Abdul Rozak, staf ahli Mentan. Bagian depan dan belakang mobil tersebut rusak. Sementara itu, bus bernomor polisi B 7935 IW yang ditumpangi Mentan Suswono hanya rusak di bagian belakang. Bus lain yang mengangkut rombongan dari Deptan rusak pada bagian depan akibat menabrak Kijang Innova.
Sebelum terjadi musibah itu, iring-iringan mobil melaju dengan kawalan petugas dari Polres Tegal. Mentan Suswono berada di bus yang melaju paling depan setelah mobil Patwal Polres Tegal. Di belakangnya, mobil Innova yang ditumpangi Abdul Rozak dan diikuti bus Deptan serta iring-iringan mobil yang lain.
Menurut informasi yang diperoleh Radar Tegal (Jawa Pos Group), rombongan Mentan melaju dari timur (arah Slawi, Kabupaten Tegal) ke arah Kabupaten Brebes dengan kecepatan sedang. Saat melintas di ruas jalan wilayah Desa Dukuhwaru, iring-iringan mobil bermaksud mendahului truk tangki pengangkut BBM yang melaju pelan.
Pada saat hampir bersamaan, dari arah berlawanan melaju sebuah kendaraan. Demi menghindari tabrakan dengan kendaraan itu, bus yang membawa Mentan urung menyalip truk tangki BBM dan mengurangi kecepatan secara mendadak. Akibatnya, terjadi kecelakaan karambol. Sopir Kijang Innova tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya dan menabrak bagian belakang bus. Selanjutnya, bagian belakang Kijang Innova diseruduk bus Deptan yang melaju di belakangnya.
''Jarak antara Kijang dan bus di depannya hanya sekitar dua meter. Saat tabrakan, bagian belakang bus juga sempat terangkat,'' tutur Yuli Wantoro, 30, warga Desa Dukuhwaru yang menyaksikan tabrakan itu.
Mulyono, 32, warga Desa Dukuhwaru lainnya menambahkan bahwa tabrakan berlangsung sangat cepat. Tetapi, tidak ada korban luka. Sesaat setelah tabrakan, empat penumpang Kijang Innova berpindah ke mobil lain yang mengikuti rombongan Mentan. ''Lantas, mereka melanjutkan perjalanan,'' katanya.
Petugas dari Polres Tegal langsung bertindak sigap dengan mengamankan lokasi kejadian. Alhasil, tidak sampai terjadi kemacetan. (ds/aan/jpnn/dwi/oki)