Kamis, 02 September 2010
 
[ Minggu, 12 Oktober 2008 ]
Licia Sucipto, Cewek Asal Surabaya yang Jadi Manajer Band Perkusi
Korbankan Kerja Kantoran, Pilih Urusi 12 Personel Laki-Laki

Seorang gadis asal Surabaya sukses mengomandani grup band perkusi di Singapura. Licia Sucipto, nama gadis itu, menceritakan perjalanan grupnya, Wicked Aura Batucada, kepada wartawan Jawa Pos ROKY MAGHBAL yang belum lama ini bertugas di

---------

SUDAH lebih dari 13 tahun Licia menetap di Singapura. Tapi, dia belum bisa melupakan banyak hal tentang kota kelahirannya, Surabaya. Jebolan SD Kr Petra 1 itu juga masih fasih berbicara dengan logat Suroboyoan yang kental.

''Teko Suroboyo yo? Lagi ono liputan opo? Wah, wis suwe aku gak ngomong boso Suroboyoan (Dari Surabaya ya? Sedang ada tugas liputan apa? Wah, sudah lama saya tidak ngomong bahasa Surabaya, Red),'' tutur Licia penuh keakraban saat bertemu Jawa Pos di lobi Gallery Hotel, Nanson Road, 28 September lalu.

Gadis berperawakan tinggi kurus dengan rambut sebahu tersebut tampak fresh. Padahal, waktu itu jam sudah menunjuk pukul 02.00. Memang, cukup susah bertemu sulung di antara tiga bersaudara itu. Sebab, hampir sepanjang hari dia sibuk dengan seabrek pekerjaan. Maka, baru dini hari itu Jawa Pos bisa menemuinya.

''Biasanya jam segini ini saya baru bisa pulang ke rumah. Bahkan, kalau masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, saya baru sampai apartemen pukul 06.00 pagi,'' ujar lajang yang kemarin (11/10) merayakan ulang tahun ke-25 tersebut.

Hari itu, seabrek kesibukan harus dia lakoni. Grup band perkusi Wicked Aura Batucada yang dia manajeri mendapat dua order manggung sekaligus. Sejak siang hingga pukul 22.00, grup band-nya tampil di Paddock Club Sirkuit Marina Bay dalam rangkaian Grand Prix Formula 1 Singapura.

Selepas itu, dia dan kelompoknya juga harus tampil di salah satu kafe di kawasan hiburan malam terkenal Clarke Quay hingga dini hari.

Selain tersedot untuk mengurusi Wicked Aura Batucada, Licia sibuk mengurusi bisnis jamming studio (studio musik untuk disewakan) miliknya. Studio musik di kawasan Macpherson Road tersebut dia dirikan dengan modal dari kantong sendiri. Hasil jerih payahnya sebagai manajer Wicked Aura Batucada selama ini.

Belakangan, kesibukannya makin bertambah. Sebab, sejak April lalu, Licia ikut membidani lahirnya Sonofa, band baru bergenre dance dengan personel 10 orang.

''Kebetulan, saya bukan termasuk cewek boros. Saya tak terlalu suka belanja pakaian dan barang-barang branded. Jadi, saya bisa menabung,'' jelas sarjana komunikasi alumnus Nanyang Technological University itu.

Ketertarikan Licia terjun dalam bidang entertainment seperti sekarang bermula dari ajakan Syed Ahmad, salah seorang musikus ternama Singapura yang ikut membidani lahirnya Wicked Aura Batucada. Licia akhirnya resmi mengisi posisi manajer sejak awal 2007.

''Banyak pelajaran berharga yang saya peroleh dari dia (Syed Ahmad). Sayang, sekarang dia sudah keluar dari Wicked Aura Batucada,'' ungkapnya.

Sebelumnya, Licia sempat mendapatkan kesempatan magang di sebuah production house yang dipimpin Najib Ali, mantan presenter Asia Bagus.

Pilihan Licia terjun total di dunia hiburan bukannya tanpa rintangan. Selain menyedot waktu dan pikiran, dia harus ''melawan'' keinginan orang tuanya yang berharap anak gadisnya bekerja kantoran dan hidup ''normal''.

Licia dilahirkan di Surabaya pada 11 Oktober 1983. Masa kecilnya dihabiskan di kawasan elite Darmo Permai. Dia mengecap bangku pendidikan dasar di TK dan SD Petra 1 Surabaya. Pada 1994, ketika masih duduk di bangku kelas 6 SD, Licia dan adiknya dikirim orang tua ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan di sana. ''Ketika itu, menyekolahkan anak ke luar negeri mulai ngetren,'' kenangnya.

Tentunya, setelah lulus kuliah, kedua orang tuanya berharap anak sulungnya itu bisa bekerja mapan di Singapura. Apalagi, kemudian orang tua dan adiknya paling kecil ikut boyongan ke negeri jiran tersebut.

Kesempatan untuk bekerja kantoran sejatinya terbuka lebar bagi Licia. Setelah meraih gelar sarjana komunikasi, dia langsung diterima sebagai public relation (PR) di sebuah perusahaan ternama di Singapura. Pekerjaan itu juga membuka peluang bagi dirinya untuk mendapatkan status permanent residence.

Dia sempat merangkap dua pekerjaan sekaligus, jadi PR di perusahaan dan manajer grup band perkusi Wicked Aura Batucada. Namun, lantaran lebih sreg di dunia entertainment, Licia harus meninggalkan pekerjaan kantorannya. Pilihan itu langsung direaksi keras kedua orang tuanya.

''Biasalah, namanya orang tua. Dalam pikiran mereka, pekerjaan seperti yang saya tekuni sekarang dianggap tidak memiliki masa depan cerah,'' paparnya.

Orang tua Licia khawatir anak gadisnya terpengaruh efek buruk dunia hiburan. Maklum, dia bekerja dengan 12 cowok sekaligus dan sering pulang subuh. ''Sampai sekarang mereka (orang tua Licia, Red) belum bisa menerima dan merestui pekerjaan saya ini,'' tambahnya.

Meski tak mendapat restu orang tua, Licia bersikukuh pada pilihannya. Justru, dia terlecut untuk membuktikan bahwa pilihannya itu tepat. ''Prinsip saya, do something meaningful for everyone. Tidak hanya untuk saya, tapi juga orang lain. Saya percaya, suatu saat Papa dan Mama akan menerima,'' tegasnya.

Karena sudah all-out di bidang entertainment, Licia menjalani rutinitas pekerjaan yang melelahkan dan menguras pikiran itu dengan enjoy. Termasuk, mengurusi ke-12 personel band yang cowok semua tersebut. Apalagi, latar belakang etnis masing-masing berbeda. Ada yang keturunan Melayu, India, bahkan ada yang dari Inggris. Selain itu, ada anggota yang sudah berusia 43 tahun.

''Kami bekerja secara profesional. Masing-masing berusaha menjalankan tugas dengan baik. Saya tak pernah merasa risi sedikit pun, meski harus tur ke luar negeri sampai berminggu-minggu bersama mereka,'' jelasnya.

Ke-12 personel Wicked Aura Batucada itu adalah Aidan, Budi, Eddy, Hanafi, Hardy, Rizal, Salle, Sarong, Sham, Sharan, Uan, dan Wan ''Afro''. Mereka punya spesialisasi alat masing-masing.

Dari segi finansial, Licia juga merasa tercukupi. Meski masih tinggal di apartemen orang tuanya, dia sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri. ''Pokoknya, lumayanlah. Hampir sama dengan gaji manajer bank level kantor cabang di Indonesia,'' ujarnya lalu tertawa.

Wicked Aura Batucada merupakan band yang sedang naik daun di Singapura. Band yang dibentuk pada 2003 itu belum lama ini merilis album ke-3 berjudul Louder than Light. Dua album sebelumnya adalah A Fever Runs Though (dirilis 2008) dan Ok Go (2006).

Tak terhitung sudah berapa kali mereka manggung di acara-acara besar di Singapura. Termasuk manggung di sela-sela Grand Prix Singapura, 26-28 September lalu.

Selain digandrungi di negaranya, kiprah grup band perkusi tersebut mulai diakui di pentas internasional. Mereka pernah manggung di Australia, Inggris, Spanyol, Hongkong, Sri Lanka, Malaysia, Korea Selatan, Tiongkok, dan Thailand. Rencananya, akhir November nanti Licia dan bandnya melakoni rangkaian tur ke Melbourne, Australia.

''Itulah keuntungan lain yang bisa saya petik dari menekuni bidang ini. Saya bisa berjalan-jalan ke luar negeri dan mendapatkan banyak pengalaman baru,'' ungkapnya.

''Kepuasan ini tak ternilai dengan apa pun. Dan yang terpenting, semua saya dapatkan dengan gratis. Dapat bayaran lagi,'' kata dara yang berangan-angan menjadi promotor kondang itu. (*/ari)