[ Kamis, 12 Juni 2008 ]
Sepuluh Persen untuk Komisi Satpam
Tak Mau Pekerjakan Anak-Anak, Makan Bawang untuk Stamina
SURABAYA - Cak To punya anak buah 54 pengemis. Tapi, dia mengaku tidak mau asal merekrut anggota. Menurut pria kelahiran 1960 itu, hampir 60 persen anak buahnya masih punya hubungan darah. Kalau bukan, mereka masih berasal dari kampung yang sama di Madura atau sudah menjadi teman lama. ''Kalau dirunut, kami masih sekeluarga. Masih keturunan Bindara Agung,'' katanya.
Cak To menegaskan, dirinya pantang mempekerjakan anak-anak. ''Saya saja ndak ingin anak-anak saya mengikuti jejak saya. Masak mau mempekerjakan anak orang lain?'' ucapnya.
Kalau mau menjadi pengemis di bawah pengawasan Cak To, juga tidak boleh sembarangan. ''Meskipun hanya pengemis, saya maunya mereka menguasai cara yang benar,'' ujarnya.
Para anggota baru mendapatkan materi pelajaran secara komplet. Mulai cara berpakaian, ekspresi wajah, hingga cara menghadapi bentakan calon pemberi atau petugas yang merazia.
Sebelum dilepas, para anggota baru mendapatkan pengawasan khusus. Cak To mengantarkan mereka ke tempat di mana mereka seharusnya mangkal. ''Dalam satu sampai dua bulan terus saya awasi. Setelah itu, baru saya tinggal,'' jelasnya.
Karena punya banyak anggota, Cak To punya aturan main mengenai penempatan pengemis. Dengan demikian, pemasukan bisa maksimal, tidak saling mengambil jatah.
Salah satunya adalah pengaturan ''jam kerja'' dan ''wilayah'' anggota. Pada dasarnya, para pengemis ''bekerja'' pukul 07.00 hingga 18.00. Tapi, kata Cak To, masing-masing pengemisnya punya jadwal. ''Kapan harus ke perumahan A, kapan ke B, sudah ada jadwalnya,'' katanya.
Dalam satu perumahan, bisa terdapat satu atau dua pengemis yang dikoordinasi Cak To. Kalau ada dua, itu dilakukan dengan cara bergiliran. ''Pengemis kedua baru boleh datang setelah selang beberapa jam dari pengemis pertama,'' ungkapnya.
Di perumahan-perumahan, Cak To mengakui adanya kendala petugas keamanan (satpam). Karena itu, pihaknya telah melakukan negosiasi. Kesepakatannya, pengemis boleh ''beroperasi'' di kompleks perumahan itu, lalu sang petugas keamanan mendapat komisi sekitar sepuluh persen dari total penghasilan di kompleks tersebut.
''Per hari bisa ditaksir berapa penghasilannya. Setelah itu tinggal dipotong sepuluh persen,'' katanya.
Untuk persoalan stamina, Cak To punya kiat khusus. Sebab, kalau ditotal, setiap hari seorang pengemis menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer.
Menurut dia, bawang putih adalah kunci untuk menjaga kebugaran. Setiap hari, bawang putih dia makan beserta menu sarapan pagi. ''Bawangnya biasa saya makan dengan petis. Dijadikan lalapan,'' jelasnya.
Selain itu, Cak To pantang makanan berlemak. Dia menghindari makanan yang masuk kategori jeroan. ''Itu makanan tidak bagus. Saya lebih senang makan sayuran,'' tegasnya. (ded)