Ronny Mustamu, Dosen UK Petra yang Mendapat Beasiswa ke Amerika
Ingin Terus Kaji Manajemen Media
Ronny Mustamu memang ''orang pilihan''. Dosen manajemen bisnis dan komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra itu adalah satu di antara 18 orang yang dipilih untuk mengikuti
summer course di Amerika pada 29 Juni-10 Agustus. Dia satu-satunya dari Indonesia.
AGUNG P.A.
------------
EVEN yang diikuti Ronny adalah
Study of the United States Institute (SUSI)
on Journalism and Media. Pesertanya 18 orang, tiga dari Asia Tenggara.
''Pemilihan peserta itu
kan dari kompetisi. Mereka yang tertarik harus mengirimkan CV, tulisan, dan surat rekomendasi,'' kata Ronny yang ditemui di sela-sela rapat kurikulum UK Petra di Hotel Novotel Jumat (20/6).
Nama Ronny Mustamu memang tidak asing lagi. Pengalamannya di dunia media pun cukup banyak, baik sebagai praktisi maupun akademisi. Pada 2003-2006, dia menjabat sebagai pemimpin redaksi dan direktur
Surabaya Post.
Sebelumnya, lelaki kelahiran Jombang itu selalu bersinggungan dengan media. Antara lain, enam tahun sebagai humas, kepala jurusan ilmu komunikasi, dan dekan Fakultas Ekonomi UK Petra. ''Saya pun banyak melakukan penelitian tentang media massa,'' kata bapak dua anak itu.
Untuk penelitian tentang media massa, Ronny mengambil spesifikasi pada manajemen media. Menurut pendiri Pusat Kajian Komunikasi Petra (PKKP) itu, tak banyak yang mengambil bidang manajemen media. Apalagi kaitan manajemen dengan pemberitaan.
''Justru itu yang mengasyikkan. Manajemen media yang tidak sehat membuat kualitas pemberitaan tidak bagus,'' kata lulusan Hubungan Internasional Unair tersebut.
Ronny menuturkan, pengelolaan media yang tidak bagus akan berimbas pada pemberitaan. Tulisan akan lebih condong ke unsur bisnis. Sebab, keredaksian adalah ''komoditas'' yang akhirnya dijual untuk membuat berita sesuai keinginan investor. ''Itu adalah cara yang akhirnya dilakukan agar media tetap bisa hidup,'' katanya.
Menurut lulusan Asian Institute of Management, Manila, tersebut, media seperti itu tak bisa membuat tulisan investigasi. Sebab, mereka tidak bisa dengan leluasa memberitakan permasalahan. Selalu ada kompromi yang membuat kerja jurnalistik terganggu.
Aktivitas Ronny memang lebih banyak pada riset media. Dia sudah sering meneliti keberpihakan media pada calon-calon tertentu dalam pilkada. Hasilnya? ''Selalu ada kecenderungan untuk berpihak. Meski banyak memberitakan calon tertentu, isi teks tidak bisa dibohongi,'' ungkapnya.
Summer course yang akan diikuti selama enam minggu tersebut, kata Ronny, akan banyak bicara tentang jurnalistik dan teknologi. ''Itu akan disampaikan secara bertahap. Awalnya tentang sejarah jurnalistik hingga teknologi media massa seperti website,'' ungkapnya.
''Setelah itu, peserta akan diberi pilihan untuk tindak lanjut pelatihan. Apakah magang atau riset. Saya kan sudah pernah kerja di media sehingga saya pilih riset,'' katanya. Tentang apa? ''Saya fokus pada manajemen dan dampaknya pada pemberitaan,'' tandas laki-laki yang pernah mengajar di Pascasarjana Komunikasi dan Kajian Media Unair itu. (*/dos)