Kamis, 18 Maret 2010
 

[ Minggu, 14 Maret 2010 ]
Agus Pramono, Oboe yang Tersisa
PEMUSIK oboe di Indonesia bisa dihitung dengan jari. Sebab, alat musik itu mahal dan sulit memainkannya. Di Surabaya, Agus Pramono disebut-sebut sebagai satu-satunya yang piawai memainkan oboe dalam pergelaran musik.

Kini, pria asal Gresik tersebut bergabung dalam Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pimpinan Solomon Tong. Di orkestra itu, Agus merupakan satu-satunya peniup oboe. Kalau ada konser akbar, grup tersebut mengundang peniup oboe lain dari Jogjakarta.

Awalnya, seperti kebanyakan anak muda, Agus mengawali kecintaan pada musik lewat gitar. Namun, cintanya pada oboe tak terelakkan. Itu terjadi saat dia menonton konser di Jogjakarta pada 1984. Mendengar oboe, Agus langsung terpikat. Baginya, suara oboe sangat berbeda dengan suara alat musik lainnya. ''Suaranya bisa membelah. Dalam orkestra besar, bisa menunjukkan karakter suaranya,'' ujar Agus.

Agus memang lahir dari keluarga seni. Ayahnya adalah seorang pemain biola yang tergabung dalam grup musik keroncong. Pamannya merupakan seorang pemain piano. Begitu pula sang adik yang juga menekuni piano. ''Ibu saya adalah orang yang bergerak di bidang kesehatan,'' kata Agus.

Agus masuk ISI pada 1986. Selama kuliah di ISI, dia mempelajari klarinet. Karena terbentur kebutuhan dan ingin menjadi pemusik, dia tak merampungkan kuliahnya. Padahal, saat itu, dia tengah mengerjakan skripsi.

Agus mengikuti gaya hidup teman-temannya. Mereka memilih untuk bergabung dengan band dan orkestra. Begitu pula Agus. Berbekal kemampuannya bermain klarinet, dia bergabung dengan orkestra dan konser di wilayah Jogjakarta. ''Musik tidak butuh ijazah, tetapi butuh pekerjaan,'' tutur Agus.

Pada 1996, Agus kembali ke Surabaya. Seorang kawan lalu mengajaknya bergabung dengan SSO. Saat itu, di SSO hanya ada satu pemain terompet, satu orang pemain flute, dan dua orang pemain klarinet. Belum ada pemain oboe.

Sebagai or­kes­tra besar, SSO membutuhkan seorang pemain oboe. Maka, Solomon me­­na­warkan oboe ke­pada Agus. Agus yang saat itu ingin me­miliki oboe namun terkendala biaya langsung mengiyakan.

Hingga saat ini, Agus masih me­nggunakan o­boe milik yayasan SSO. Agus mengatakan ingin me­­miliki oboe, namun terken­dala harga oboe yang sangat mahal. Satu buah oboe produksi Jepang dijual seharga Rp 30 juta.

Menurut Agus, lubang oboe lebih kecil jika di­ban­dingkan dengan kla­rinet. Untuk me­ni­up o­boe, gigi tidak bertemu, sementara bibir harus bertemu. Meniup klarinet lebih mudah karena bibir dan gigi bertemu.

Meniup oboe juga menggunakan pernapasan diafragma. Apabila salah mengambil napas, akibatnya fatal. Bila tetap memaksa, saraf di kepala akan rusak.

Agus pernah memiliki pengalaman terkait dengan salah mengambil napas. Akibatnya, dia mengalami sakit kepala seharian. Agus pernah mencoba meminum obat penyembuh penyakit kepala. Tetapi, sakitnya tidak berkurang. (mer/dos)