[ Kamis, 03 September 2009 ]
Dina Hanifasari, Manfaatkan Serat Optik Jadi Lampu Bertenaga Matahari
Inspirasi Muncul saat Lampu Mati di Siang Hari
Kreativitas dan karya siswa Kota Malang dalam hal teknologi tepat guna patut diacungi jempol. Karya Dina Hanifasari, siswi SMPN 1 Malang, misalnya. Ia berhasil membuat simulasi lampu bertenaga matahari dengan bahan dasar kabel serat optik. Dina pun menyabet juara pada lomba karya ilmiah remaja (LKIR) SMP tingkat nasional.
Kholid Amrullah
---
Kotak terbuat dari tripleks dengan ukuran lebar dan tinggi 25 cm kemarin dipamerkan Dina, saat wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya, Jl Tirto Utomo Gg 4/42 B Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Alat yang dijadikan simulasi penelitiannya itu sangat sederhana. Jika dilihat sekilas, seperti mainan atau kotak yang biasa dijadikan tempat obat di rumah.
Kotak itu dibagi dua ruang. Pembatas ruang tengahnya juga terbuat dari tripleks. Lalu di bagian atasnya dilubangi sebesar jari telunjuk orang dewasa. Lubang itu untuk tempat kabel optik dan menangkap sinar matahari. Pada alat simulasi itu, Dina menggunakan lampu belajar sebagai ganti matahari.
Lalu, kabel optik yang dibungkus dengan isolasi warna hitam itu dihubungkan ke dalam kotak itu dengan ujung yang terbuka. Kabel optik itu dibagi dua bagian pada ruang atas. Dua bagian lainnya dihubungkan pada ruang kedua. "Ujung kabel ini akan memancarkan cahaya kalau kabel yang di atas itu terkena sinar," jelas siswi berjilbab ini.
Putri pasangan Ir Diding Suhardi MT dan Dra Masiyah Kholmi Ak MM ini mengaku bahwa ide pembuatan alat ini muncul ketika dia berada di kamar rumahnya untuk belajar di siang hari. Karena kamarnya berada di dalam, Dina menyalakan lampu. Namun tiba-tiba listrik mati dan ruangan gelap. Dia pun berpikiran tentang alat yang bisa menggantikan listrik.
Beberapa hari Dina terus berpikir. Ia pun semakin terpacu ketika diajak ayahnya Ir Diding Suhardi MT ke lorong-lorong gedung yang gelap. Sehingga untuk penerangan di siang hari, tetap harus menyalakan lampu.
Padahal menurut siswi yang memiliki tinggi 165 cm ini, penerangan di siang hari banyak menghabiskan energi listrik. Padahal, saat ini Indonesia krisis listrik. Maka lulusan SDN Dinoyo 4 ini pun memutar otak untuk mencari benda yang bisa mengalirkan sinar matahari dari luar ruangan ke dalam ruangan yang tertutup. Dari berbagai upaya yang dilakukan, dia menemukan kabel serat optik. Serat itu bisa mengalirkan sinar.
Kabel serat optik biasa digunakan Telkom untuk jaringan broadband. Setelah ketemu alat yang bisa mengalirkan cahaya, Dina pun membuat simulasi ruang gelap. Dia membeli peratalan dan membikin kotak. Untuk membikin alat simulasi itu, dia mengeluarkan kocek Rp 75 ribu. ''Dua minggu saya membuat kotak itu,'' ucapnya.
Setelah jadi, hasilnya lumayan bagus. Dua ujung kabel serat optik yang dipasang di ruangan kotak itu mengalirkan sinar dari atas kotak. Hasilnya cukup terang. Ketika kotak itu digelapkan dengan cara ditutup, cahaya di dalamnya lebih terang lagi.
Dari simulasi itu, Dina berkeyakinan jika penelitian ini dikembangkan lebih besar, hasilnya juga cukup lumayan. Misalnya, dengan memasang serat optik di atas atap untuk menangkap sinar matahari. Lalu kabel itu dihubungkan ke dalam ruangan-ruangan yang gelap dengan berbagai modifikasinya. Dengan alat itu, minimal untuk siang hari, ruangan yang gelap tidak perlu disinari dengan lampu listrik. Listrik pun bisa dihemat.
Konsep ini bisa dimanfaatkan untuk pengganti listrik di siang hari untuk ruangan-ruangan gedung bertingkat. Keunggulannya, murah dan ramah lingkungan. "Karena kabelnya juga tidak nyetrum," ujar gadis yang juga menjadi gitaris band CFC SMPN I Kota Malang ini.
Percobaan gadis kelahiran April 1995 itu pun berhasil menggondol juara harapan 3 dalam ajang lomba karya ilmiah remaja (LKIR) teknologi tingkat SMP se-Indonesia. Selanjutnya, karya itu akan dipamerkan dalam pameran teknologi yang akan diselenggarakan di Jakarta Desember mendatang. Atas keberhasilannya itu, Dina ingin terus mencari ide-ide baru yang berkaitan dengan teknologi. ''Sayang ingin mencari teknologi-teknologi baru yang berguna untuk kehidupan manusia,'' ujarnya. (*/war)