[ Kamis, 10 September 2009 ]
Teruskan Tradisi, Tiga Bersaudara Geluti Olahraga Terbang Layang
Demi Ayahnya, Usai Pemakaman Langsung Tanding
Tidak banyak keluarga yang memiliki hobi yang sama. Namun, keluarga (alm) Supardi mampu membuktikannya. Tiga anaknya, Bido Angkasa, 35; Camar Fasida, 33; dan Jatayu Illinonis, 28, kini mahir bermain terbang layang. Bahkan, mereka menjadi atlet FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) Puslatda Jatim yang diproyeksikan mewakili Jatim dalam kejuaraan PON XVIII di Riau, 2012 mendatang.
Eko Agus Prasetyo
---
Tiga pemuda bertubuh tegap terlihat santai di sebuah rumah di kawasan Perum Karanglo Indah Blok R/24, Balearjosari, Blimbing, Kota Malang. Jumat (4/9) siang, Bido, Camar, dan Jatayu terlihat asyik bercengkerama di sebuah ruang tamu.
Maklum, di rumah yang ditempati ibunya Sri Wahyuni, 65, mereka kebetulan lagi kumpul bersama. Bido sendiri selama ini tinggal di Kepanjen, Camar berdomisili di Lawang, sedangkan Jatayu kebetulan tinggal bersama ibunya.
Dari tiga bersaudara itu, kemampuan Bido dan Camar memang tidak perlu diragukan lagi. Sebab, keduanya sudah malang melintang di kejuaraan PON (pekan olahraga nasional). Bido sudah aktif menjadi atlet PON XV Jatim sejak 2000 lalu. Pada waktu itu, dia mampu mempersembahkan dua medali perunggu untuk kontingen Jatim.
Atas prestasi itu, dia kembali menjadi atlet PON XVI 2004 dengan memperkuat tuan rumah Palembang. Waktu itu, dia ditangani ayahnya, (alm) Supardi. Meski sempat diragukan karena bergabung sekitar dua bulan sebelum PON digelar, namun akhirnya Bido mampu mempersembahkan tiga medali emas di dua kelas beregu. Yakni, kelas ketepatan mendarat dan lama terbang.
Prestasi Bido meraih tiga emas merupakan prestasi yang luar biasa. Karena dalam pertandingan itu, dia sempat mengalami tekanan psikologis. Ini disebabkan saat berlangsungnya PON, ayahnya meninggal dunia setelah terkena serangan jantung.
Kondisi itu membuat dia sempat bimbang antara melanjutkan pertandingan atau berhenti. "Tapi ingat perjuangan ayah, saya akhirnya meneruskan pertandingan. Usai pemakaman di Malang, saya balik ke Palembang. Alhamdulillah, akhirnya bisa meraih tiga medali emas," kenang Bido sambil melihat medali ayahnya yang dipajang dalam pigura.
Keberhasilan Bido meraih tiga emas membuat pengurus KONI Jatim kepincut, sehingga menarik kembali Bido menjadi atlet Jatim. Tapi sayang, harapan Bido untuk tampil di PON XVII 2008 di Kaltim, kandas. Dia absen lantaran mengalamai kecelakaan dua minggu sebelum PON berlangsung. "Tapi kepastian tampil di PON Riau akan saya putuskan tahun depan. Namun kemungkinan besar saya siap," tutur bapak satu anak ini.
Prestasi serupa juga ditorehkan, adik Bido, Camar. Meski sudah bermain di PON XV 2000, namun pria kelahiran Malang 05 Februari 1976 itu baru meraih prestasi di PON XVII di Kaltim. Camar berhasil meraih menyumbangkan dua medali emas. Dua emas itu diperoleh di kelas perorangan dan beregu untuk nomer ketepatan mendarat.
Sedangkan Jatayu, prestasinya belum menonjol. Karena pria lajang ini baru tergabung dengan kontingen Jatim pada tahun ini. Jatayu sendiri memulai aktivitas sebagai atlet terbang layang pada 2008 lalu. Jatayu bisa terbang layang karena sekolah di Kalijati, Subang, Jabar. "Saya sekolah terbang layang, karena hobi. Saya ingin seperti bisa berprestasi seperti kakak saya," ucap Jatayu.
Kehebatan Bido, Camar, dan Jatayu dalam terbang layang, tidak terlepas dari faktor ayahnya. Selain sebagai anggota TNI AU yang dinas di Lanud Abdulrachman Saleh, Supardi juga sukses sebagai atlet dan pelatih terbang layang. Prestasi itu yang membuatnya anak-anaknya ingin meniru kelihaiannya ayahnya dan sekaligus melanggengkan dalam tradisi keluarga.
Camar menceritakan, ayahnya tidak pernah memaksakan anak-anaknya bisa menjadi atlet terbang layang. Akan tetapi, karena ayahnya sering mengajak anak-anaknya ikut latihan, membuat mereka akhirnya jatuh cinta pada dunia olahraga terbang layang.
Bahkan, sebelum dirinya menjadi atlet, awalnya menjadi mekanik. Dari situlah, dirinya mengetahui tentang cara mengemudikan pesawat hingga akhirnya bisa menerbangkannya. "Seringnya terbang membuat saya akhirnya terbiasa dan tidak takut pada ketinggian," tutur Camar. (*/ziz)