Kamis, 02 September 2010
 
   Radar Yogya
[ Jum'at, 11 Desember 2009 ]
JK Sumbang 10 jt untuk Biennale Jogja X
JOGJA - Biennale Jogja X 2009 memang penuh kejutan. Kemarin (10/12) saat Jusuf Kalla (JK) sedang berada di Jogja untuk sebuah acara, mantan wakil presiden RI tersebut menyempatkan diri untuk menengok karya perupa peserta Biennale di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). JK didampingi putri pertamanya, Muchlisa Jusuf, tampak pula kader Golkar, Fahmi Idris dan Gandung Pardiman. Mereka disambut oleh Direktur Biennale Jogja X, Butet Kertarajasa.

Sesampainya di TBY, JK langsung diajak Butet untuk sejenak melihat sekretariat Biennale sebelum berkeliling melihat karya. Di sekretariat, secara spontan perupa Bambang Heras dan Samuel Indratma meminta JK agar sedia dilukis wajahnya. JK pun lantas duduk dan siap untuk dilukis. Sambil dilukis oleh kedua perupa tersebut, JK mengobrol dengan Butet dan kedua perupa itu.

"Ini nyeketnya kayak jargonnya Pak JK, lebih cepat lebih baik," kelakar Heras sambil memulai sketsa JK.

Heras kemudian bertanya apakah di rumah JK punya banyak lukisan. JK pun menjawab jika di rumahnya ada banyak lukisan.

"Lukisannya asli atau bodongan, pak?" kata Butet yang diikuti tawa JK serta yang lainnya.

Di sela-sela dilukis wajah, JK berkomentar jika orang Jogja suka menyentil. "Tapi nyentilnya tidak terasa, karena nyentilnya halus," ujar JK yang kemudian ditimpali oleh Butet, "Terasanya selang satu menit ya, Pak?"

Usai dilukis, JK mengomentari lukisan Samuel, "Loh kayak Muhammadiyah?" Sebab dalam lukisan Samuel, ada garis-garis yang menyerupai cahaya, namun JK mengira seperti Muhammadiyah. Lukisan JK di tangan Samuel tampak lebih muda.

"Ini namanya peremajaan, Pak. Pokoknya kalau Pak JK sering ngumpul dengan seniman bisa awet muda terus," kelakar Samuel.

Usai JK dilukis, Butet memanfatkan kesempatan mengajak JK untuk menilik dapur Biennale. Butet pun memperlihatkan memperlihatkan deretan sumbangan yang ditulis di papan sumbangan dapur Biennale.

"Berapa kurangnya?" tanya JK. "Wah kalau ditanya kurang berapa, kurang banyak, Pak," jawab Butet. Setelah bertanya ke beberapa orang dekatnya ia pun memberikan bantuan Rp10 juta untuk Biennale. "Saya sumbang Rp 10 juta ya," kata JK. Kemudian Butet langsung menulis JK menyumbang 10 juta di papan sumbangan dapur Biennale. Uang tersebut diserahkan pada Butet usai JK melihat karya yang ada di ruang pamer. 

"Uang dari Pak JK bisa untuk bakar sate," kelakar Butet.

JK bersama rombongan kemudian diantar untuk melihat-lihat ruang pameran di TBY. JK mengomentari ekspresi keras wajah tukang becak dalam lukisan Melodia yang berjudul Harapan yang Tak Kunjung Padam. "Ekspresi tukang becaknya keras," ujar JK.

JK pun menyempatkan mencoba karya Heridono, yaitu sebuah karya instalasi. JK mencoba melihat pemandangan melalui alat yang menyerupai teropong di kapal selam.

Usai menyaksikan karya-karya yang tengah dipersiapkan di ruang pamer, JK memberi komentar bahwa karya-karya ini tentunya sangat kreatif. "Semua kreasi ini sangat kreatif. Kreativitas seni yang banyak maknanya," kata JK.

Butet mengaku surprise dengan kehadiran JK yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ini. "Kehadiran JK sangat surprise dan membanggakan. Tidak sia-sia teman-teman bekerja keras untuk Biennale. Kedatangan JK tentunya bisa menyemangati teman-teman," kata Butet. (isa)