[ Jum'at, 18 Desember 2009 ]
Nasib Keluarga TKI Asal Kulonprogo Tewas di Malaysia
Dapat Hadiah Sepatu Terakhir Dari Sang Ayah
Perjuangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara lain nampaknya tidak selalu berakhir bahagia. Demi mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak, terkadang mereka pun harus meregang nyawanya sendiri. Salah satunya dialami oleh Wakidi, 40 asal Samigaluh, Kulonprogo yang menjadi korban kecelakaan kerja di pabrik kayu lapis Plusville di Malaysia Timur.
Kulonprogo, Reren Indranila
-----------------------------------------
Tangisan anak kecil berumur tiga tahun begitu kencang terdengar disalah satu rumah di RT 38 RW 16 Munggang Wetan, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo. Dirumah itu pula terlihat banyak orang yang sedang duduk-duduk di barisan kursi yang sudah ditata rapi. Disanalah keluarga korban kecelakaan kerja di Malaysia menunggu kepastian datangnya jenazah.
Kendati belum ada kejelasan kapan jenazah tiba, namun pihak keluarga sudah memasang tenda dan mengadakan tahlilan untuk mendoakan arwah ayah dua putra yang meninggal di negeri seberang.
"Belum ada kabar lagi, kami diminta untuk menunggu dan sabar. Katanya perusahaan ditempat paman saya bekerja akan tetap bertanggung jawab,"ujar Zainudin yang merupakan keponakan Wakidi, TKI yang meninggal karena tertimpa mesin uap di tempatnya bekerja.
Menurut Zainudin, kabar duka ini dia terima pada pada Rabu (16/12) sekitar pukul 11.30 melalui telepon. Kabar dari Malaysia itu memberitahukan bahwa Wakidi mengalami kecelakaan ketika bekerja di pabrik. Tak selang lama, Zainudin yang sehari-hari tinggal di Bantul langsung memberitahukan berita duka yang diterimanya kepada keluarga pamannya yang berada di Kulonprogo.
"Sampai hari ini (kemarin) saya masih melakukan komunikasi dan memantau terus perkembangan jenazah paman saya,"imbuhnya.
Istri korban, Mujiyem, 38 mengaku kaget dan tidak menduga suaminya akan pergi begitu cepat. Apalagi seminggu sebelum kejadian, Wakidi sempat mengirimkan SMS ke Mujiyem. Dalam pesan singkatnya, Wakidi mengatakan bahwa dirinya tidak akan bisa memberikan kabar baik melalui SMS atau telepon dalam jangka waktu yang lama. "Saya merasa bingung dengan sikap suami. Saya jadi orang ling-lung setelahnya karena memikirkan ucapan suami. Mungkin pesan itu merupakan firasat,"ucap wanita berjilbab ini.
Perasaan tidak menentu pun diungkapkan oleh anak pertama Wakidi dan Mujiyem yang masih duduk di kelas 6 SD Muhammadiyah Munggang Wetan, Wahyu Kurniawan. Meski dirinya mengungkapkan perasaan sedihnya, namun raut muka tegar begitu terlihat. Wahyu sempat menerawang dan mengingat-ingat kenangan terakhirnya dengan sang ayah.
"Sebelum ayah pergi, saya diberi hadiah sepatu dan mainan. Ayah juga berpesan agar saya menjadi anak yang baik,"terangnya.
Menurutnya, ayahnya adalah sosok pekerja keras dan sayang keluarga. Bahkan setiap bulannya, Wakidi tidak pernah absen untuk menelpon hanya untuk menanyakan kabarnya. Rencananya, bulan Januari 2010 akan pulang karena sejak berangkat ke Malaysia di tahun 2006, Wakidi belum pernah pulang sama sekali.
"Sebenarnya saya kangen, karena sudah lama tidak bertemu. Tetapi ternyata ayah pulang dengan keadaan meninggal. Saya berjanjii untuk tetap menjadi anak yang baik menjaga ibu dan adik saya, Abit Nur Faturoh,"janji Wahyu.
Salah seorang tetangga, Wahid, 60 mengatakan kebanyakan warga desanya memang menjadi TKI di negara lain untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang tinggi. Namun, kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi. Kebanyakan warga disana, ketika usia menginjak dewasa pasti langsung menjadi TKI. Dan setelah pulang, mereka bisa membangun rumah dan membuka usaha sendiri. "Peristiwa ini baru pertama terjadi. Sebagai contoh agar mereka yang bekerja di pabrik lebih berhato-hati dalam bekerja,"tambahnya.***