Rabu, 10 Februari 2010
 
   Radar Yogya
[ Senin, 21 Juli 2008 ]
Wanita-Wanita Jepang yang Belajar Kesenian Jawa (2-Habis)
Pesinden, Hiromi Sudah Ikuti Lebih 100 Dalang

Selain Hanae Kobayashi, wanita Jepang yang mendalami kesenian Jawa adalah Hiromi Kano. Namun bukan seni pedalangan yang ditekuni Hiromi. Ia memilih mempelajari seni karawitan. Bahkan, nama Hiromi kini sudah dikenal sebagai pesinden handal.

SYUKRON MUTTAQIEN, Jogja

----------------------------------------------------------------------------

Saat bersanding dengan pesinden lain, sepintas tidak ada perbedaan sedikit pun. Dengan pakaian kebaya dan sanggul di kepala, wanita ini fasih melantunkan gending-gending berirama Jawa. Namun ketika diperhatikan lebih seksama, mata wanita ini kelihatan sipit dibangdingkan yang lain. Kulitnya juga tampak lebih putih, tidak kuning langsat seperti umumnya kulit orang Jawa.

Ya, tidak salah karena Hiromi memang bukan keturunan Jawa. Dia keturunan Jepang. Sudah lima tahun ini ia begelut dengan dunia karawitan. Berbagai pentas wayang kulit telah diikutinya. Mulai acara hajatan hingga syukuran kegiatan. Baik perseorangan maupun lembaga. Bahkan, sampai saat ini sudah lebih 100 dalang yang pernah diikuti.

Hiromi belajar karawitan sejak 2001 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI, kini ISI Solo). Di bawah asuhan para dosen di PTN seni itu, Hiromi mengasah ilmunya di bidang olah seni vokal ini. ''Saya belajar langsung dari para pesinden di Solo," aku Hiromi di sela-sela pementasan Trilogi Dalang Perempuan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, Kamis (17/7).

Wanita berkacamata minus ini mengaku sengaja datang ke Indonesia untuk belajar seni karawitan. Menurutnya, seni karawitan adalah seni yang berbeda dengan kesenian lain. ''Irama dan nadanya berbeda dengan musik biasa. Ini yang membuat saya tertarik," tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, irama dari alat musik gamelan juga mempunyai ciri dan karakter berbeda. Apalagi, saat dipadukan dengan nyanyian sang sinden. "Nadanya berbeda. Membutuhkan teknik yang berbeda untuk memadukan antara gamelan dengan sindennya," katanya.

Awalnya ia mengalami kesulitan untuk belajar seni karawitan. Kesulitan pada pengucapan vokal lagu Jawa. ''Seperti mengucap vokal o dan a. Seperti kata lara (sakit) dengan loro (dua). Sampai sekarang masih sangat sulit membedakannya," akunya.

Keinginan kuat Hiromi belajar karawitan makin terdukung setelah menikah dengan Suyono, seniornya di STSI. Suyono, mahasiswa jurusan pedalangan itu menikahi Hiromi tahun 2002. ''Saya kenal di kampus. Karena sama-sama jatuh cinta, ya kami menikah," cerita perempuan yang tinggal di daerah Mojosongo, Banjarsari, Solo, ini.

Setelah menikah dengan Suyono, intensitas belajar didukung sang suami. Bahkan Hiromi sering diajak pentas bareng saat Suyono ditanggap. ''Awalnya sih jarang diajak, karena masih belum bagus. Tapi, saat ini saya sudah sering diikutkan," katanya.

Ia mengakui bisa menjadi pesiden salah satunya karena dukungan suaminya. Diungkapkan, setiap saat suaminya memberikan bimbingan dan dorongan. ''Tanpa bantuannya, mungkin saya tidak bisa seperti ini," tandas penyuka gending Lambangsari ini.

Ditanya apakah akan kembali ke negara asalnya, Hiromi mengaku keinginan itu ada. Awalnya, setelah selesai mendalami seni karawaitan, ia berencana mengembangkan kesenian ini di negaranya. Namun, keinginannya pupus setelah menikah dengan Suyono. ''Kalau dulu kan masih warga negara Jepang. Sekarang saya sudah warga Solo," tandasnya. ***