[ Senin, 08 Maret 2010 ]
Mengenang Kepergian I Gusti Ngurah Wahyunda ; Aktivis yang Gigih Mempe
Obesinya Praktikkan SEMA Rehabilitasi untuk Pecandu
Sempat menjalani perawatan sekitar tiga minggu, Sabtu (6/3) lalu, sekitar pukul 00.00, Gung Wah sapaan I Gusti Ngurah Wahyunda, akhirnya berpulang. Berita atas kepulangannya pun mengagetkan kawan juga sesama aktivis korban narkoba dan HIV/AIDS di Bali.
---
KALAU sebelumnya Bali kehilangan "paman" bagi para mantan pecandu narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain (Napza), atas berpulangnya Direktur Yayasan Kemanusiaan Bali (Yakeba), Bob Monkhouse atau yang akrab disapa Uncle Bob, hari Minggu (7/2) kemarin duka kembali menyelimuti ranah pegiat Napza, saat pengabenan jenazah.
Sosok tokoh muda, sekaligus aktivis dan pejuang yang getol menggelorakan hak asasi manusia (HAM) bagi korban narkoba di Bali ini pergi untuk selama-lamanya. Gung Wah pergi diusianya yang baru 32 tahun.
Bak pepatah Inggris, "Only the good die young," bapak satu putra kelahiran 1 April 1978 ini meninggal dunia, setelah menjalani perawatan di RS Sanglah, akibat penyakit komplikasi. Setelah menjalani prosesi upacara nyiramin (pemandian jenazah, Red) dan disemayamkan selama satu malam di rumah duka di Jalan Arjuna, Denkayu, Mengwi, Badung, Minggu (7/3) sekitar pukul 14.00 kemarin, digelar upacara pelebon atau pembakaran dan perabuan jenazah di pemakaman desa adat setempat.
Puluhan aktivis dari korban narkoba mengiringi prosesi pelebon bagi direktur programYakeba, ini. Meski dari gerakan dan perjuangannya membela para korban napza dikenal sampai manca negara, namun di mata para rekan dan sahabat, semasa hidup Gung Wah dikenal sebagai pribadi sangat rendah hati, low profile, dan sejauh ini cukup konsisten dengan perjuangan yang dilakukannya.
Terbukti, dengan semangatnya itu, dia juga tercatat sebagai pendiri Indonesian Drug User Solidarity (IDUSA) atau yang lebih dikenal dengan nama Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI). "Dia juga salah satu tokoh HAM yang terus getol untuk memperjuangkan hak-hak para IDU," terang Luh De Suryani, salah satu sohib mendiang.
Tak hanya itu, masih di mata kawan-kawan dan keluarganya, ayah satu putra ini dilihat sebagai sosok yang cukup keras dan tegas dalam memegang prinsip-prinsip perjuangan yang dilakukan bersama teman-temannya.
Bahkan selama sisa hidupnya, mantan narapidana yang pernah ditangkap polisi dan mengalami kekerasan fisik ini dikenal sebagai sosok yang tidak henti untuk terus berjuang menolak diskriminasi dan stigma buruk terhadap para pengguna narkoba di masyarakat. Ini karena stigma negatif sebagai "sampah masyarakat" acapkali masih melekat.
"Dialah orang yang terus semangat untuk menuntut agar pemerintah dan para penentu kebijakan wajib menyediakan fasilitas rehabilitasi bagi para pengguna Napza dan menolak pemenjaraan bagi para pengguna Napza," imbuh Luh De, sembari menyatakan bahwa mendiang adalah salah satu aktivis yang ikut aktif mendorong munculnya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) tentang rehabilasi bagi pecandu.
Sementara itu, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di RS Sanglah, kata Luh De, putra pertama dari I Gusti Ngurah Kalem ini sempat dijenguk adiknya yang berada di Maluku. "Sebelum kepergiannya, dia ingin semua keluarganya kumpul. Dan, itu sudah terwujud sebelum Gung Wah pergi," papar Luh De, mengenang saat dirinya sempat menjenguk ke sal RS Sanglah tempat Gung Wah menjalani perawatan. (didik dwi praptono)