[ Selasa, 09 Maret 2010 ]
Mengenang Kepergian I Gusti Ngurah Wahyunda; Aktivis yang Gigih Memperjuangkan Hak Korban Narkoba
Suka Menyemangati Mantan Pemakai Hidup Sehat dan Bermartabat
Seakan ada rantai yang terputus dan hilang, sepeninggal Bob Monkhouse dan Gung Wah. Begitu, yang kini dirasakan para penerusnya. Jiwa kepemimpinannya yang tegas, disiplin, adalah warisan yang diturunkan mendiang.
---
BAGAIMANAPUN perginya almarhum I Gusti Ngurah Wahyunda atau yang akrab disapa Gung Wah ini jadi pukulan sangat berat bagi para mantan pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza) di Bali. Sosok Gung Wah memang begitu diakrabi, tak asing bagi para mantan pecandu atau mantan junkies.
Pengalaman hidup kelamnya di dunia narkoba, dan sempat menyeretnya ke balik jeruji besi, dengan harus menjalani kekerasan, jadi bukti semangatnya untuk menghindarkan para korban Napza di Bali untuk bisa kembali menjalani hidup dengan lebih baik.
Gung Wah ingin sekali mengangkat, melepaskan mereka (para pecandu) yang sulit lepas dari image sebagai "sampah masyarakat" itu. Seperti dilontarkan Kadek Adi Mantara atau yang akrab disapa Moyonk, merupakan rekan sekaligus saksi hidup perjuangan Gung Wah bersama teman-temannya, memberi spirit korban Napza.
Sepeninggal Gung Wah, Moyonk adalah satu dari sekian orang yang merasa sangat kehilangan. Kepada Radar Bali, Senin (8/3) kemarin, Moyonk menyatakan bahwa uncle Bob sapaan Bob Monkhouse dan Gung Wah memang tidak ada duanya, di matanya.
Bahkan, dengan kepergian Gung Wah, Moyonk mengaku bahwa dia mendapatkan amanah. "Saya mendapat amanah agar saya bisa melanjutkan cita-cita Uncle Bob untuk terus bisa mengelola Yakeba (Yayasan Kemanusiaan Bali, Red), dan permintaan itu seperti disampaiakn almarhum (Gung Wah maksudnya) saat saya menunggui di RS," terang Moyonk.
Bahkan kini, Moyonk yang diberi tanggung jawab oleh dua mendiang sebagai Direktur Yakeba yang baru itu. Itu disampaikan di saat-saat terakhir sebelum kepergian. Bahkan Moyonk mengaku sempat mendapat wejangan dari mendiang untuk meneruskan pengelolaan yayasan.
Apa wejangannya? "Saya diminta untuk bisa mengambil setiap keputusan dan mengelola Yakeba, mendiang minta saya untuk berhati-hati mengingat karakter teman-teman yang 80 persen pecandu," terangnya.
Bahkan atas sosok Gung Wah, Moyonk menyatakan bahwa mendiang sangat pantas dianugerahi gelar sebagai pahlawan bagi para pecandu narkoba di Bali. "Sosok disiplin, tegas, dan hati-hati dalam mengambil keputusan menjadi ciri khusus bagi Gung Wah. Bahkan untuk memperjuangkan hak-hak bagi para mantan pecandu dia rela meski harus mengorbankan keluarga," terangnya.
Bahkan menurut Moyonk, jika di Bali sedang mencari pahlawan, menurutnya Gung Wah sebagai sosok yang pantas untuk jadi pahlawan. "Jika saja di Bali mencari pahlawan, menurut saya mendiang sangat pantas jadi pahlawan karena jasa-jasanya,"ujarnya.
Namun kembali soal kepergiannya, kini seakan dia kehilangan akan jaringan yang selama ini telah dibangun. Atas sepeninggal pendiri Ikon Bali, pendiri Yakeba itu, Moyonk sangat mengakuinya. "Untuk pembenahan internal mungkin tidak ada masalah, namun atas sepeninggalnya jaringan nasional dan mancanegara itu seakan terputus. Kami berharap hal itu bisa kami warisi," harapnya. (didik dwi praptono)