Jum'at, 03 September 2010
 
   Radar Yogya
[ Sabtu, 26 Juli 2008 ]
HM Jisdan Bambang Yulianto, Suhunya Dokter Bedah Jogja


Dapat Julukan Bapak Laparaskopik

Namanya dr HM Jisdan Bambang Yulianto Sp.B. Dokter yang sehari-harinya bertugas di RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta ini termasuk satu dari sepuluh dokter yang dipercaya memberi kursus kepada dokter-dokter bedah di Indonesia.

AZAM SAUKI ADHAM, Jogja

-----------------------------------------------------------------------

JISDAN, begitu sering dipanggil. Ia adalah cucu KHA Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah. Dalam kesehariannya, Jisdan tak hanya menguasai ilmu agama. Alumnus Fakultas Kedokteran Umum dan Dokter Spesialis Bedah FK UGM itu juga mempunyai keahlian lain. Ia tercatat sebagai suhunya dokter bedah. Ilmu yang diajarkan kepada dokter lain adalah bedah laparaskopik.

Sampai hari ini, jumlah dokter spesialis bedah laparaskopik di Indonesia belum banyak. Dokter yang tercatat sebagai anggota Perhimpunan Bedah Endo-Laparaskopik Indonesia (PBEI) sebanyak 571 orang.

Sepuluh dari jumlah tersebut merupakan dokter paling aktif yang menyebar "virus" laparaskopik di Indonesia. Mereka adalah dokter yang mengantongi National Faculty Member (NFM). Salah satunya Jisdan Bambang Yulianto ini.

Sepuluh dokter tersebut bertugas mengembangkan pelayanan bedah laparaskopik di Indonesia. "Semua dokter bedah di Indonesia pada tahun 2010 harus mampu memberi pelayanan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat," kata Jisdan.

Jisdan menjelaskan, laparaskopik adalah tindakan medis berupa operasi bedah untuk mengobati pasien. Tindakan bedah ini berbeda dengan operasi konvensional.

Perbedaannya antara lain, perawatan membutuhkan waktu sangat pendek. Hanya 2-3 hari. Pasien yang menjalani bedah laparaskopik relatif tidak mengalami sakit berlebihan. Kondisi nyeri yang sering dirasakan setelah operasi juga berbeda dengan operasi biasa. Saat pembedahan, tidak ada tangan dokter yang masuk ke badan rongga perut untuk memanipulasi alat-alat tubuh.

Penyakit yang ditangani bedah laparaskopik antara lain hernia, usus buntu, kebocoran usus, tumor usus, batu empedu, pernanahan di liver, trauma apdomen (pendarahan rongga perut akibat kecelakaan), kebocoran lambung dan TBC usus.

Operasi yang menggunakan teknologi canggih tersebut juga membuat pasien cepat makan, minum, dan melakukan aktivitas lain. "Proses operasi paling sederhana diperlukan waktu 10 hingga 15 menit. Sedangkan penanganan paling lama saat ini untuk penyakit tumor pankreas. Bisa berlangsung sampai 3,5 jam," terang dokter yang rajin memberi dakwah kepada pasien-pasiennya.

Bagaimana penerapan ilmu bedah tersebut di rumah sakit? Di RS PKU Muhammadiyah, tempat Jisdan bekerja, jumlah pasien yang telah menjalani bedah laparaskopik hingga sekarang sampai 1.236 orang. Enam puluh persen dari pasien yang ditangani adalah masyarakat golongan ekonomi ke bawah. Mereka tidak hanya dari DIJ, tapi juga dari Jawa dan luar Jawa.

Hanya saat ditanya besar biaya operasi, dokter yang menyukai lagu-lagu klasik itu enggan menjawab. "Dokter kan tidak ngurusi soal itu (biaya)? Yang penting bagi saya, bagaimana ilmu bedah yang masih baru di Jogja ini memudahkan pasien, terutama masyarakat kecil yang sedang diberi cobaan sakit," kata dokter yang dikenal humanis ini.

Baru, karena ilmu bedah laparaskopik baru masuk ke Jogja sekitar tahun 2002. Dan, dokter kali pertama di Jogja yang menguasai ilmu bedah ini adalah Jisdan. Jisdan pula yang kini menularkan ilmunya kepada dokter-dokter dari rumah sakit lain.

Meski disebut-sebut sebagai "bapak" laparaskopik di Jogja, suami Hj Dra PSY Yuli Annisah MSi itu tetap rendah hati. Ia menganggap ilmu yang dimilikinya adalah titipan Sang Khaliq. ***