Sabtu, 11 September 2010
 
   Radar Madura
[ Jum'at, 30 Juli 2010 ]
Banjir Lagi, Empat Jalan Ditutup
Empat Sekolah Pulangkan Siswanya

SAMPANG KOTA-Banjir kembali melanda Kota Sampang. Kemarin (29/7) sejumlah wilayah yang selama ini langganan banjir digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Banjir akibat kiriman air dari wilayah utara yang mengalir Sungai Kemoning dan hujan yang mengguyur Kota Sampang dalam dua hari terakhir (27-28/7).

Seperti biasanya, banjir menimpa pemukiman di sekitar Jalan Melati, Jalan Syuhada, Jalan Imam Bonjol, Jalan Raya Panggung hingga bagian utara Kec Kota Sampang, Desa Panggung. Akibatnya, beberapa akses jalan terganggu. Polisi pun menutup empat jalan di sekitar kota.

Selain penutupan jalan, banjir kemarin juga berdampak pada kegiatan pembelajaran di sejumlah sekolah yang berada di areal banjir. Sedikitnya empat sekolah terpaksa memulangkan siswanya.

Empat jalan ditutup antara lain Jalan Panglima Sudirman. Pengendara yang hendak menuju Pamekasan lewat depan Monumen Trunojoyo harus berputar melalui Jalan Teuku Umar. Selain itu, polisi memasang portal di depan Jalan Melati, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Pahlawan.

Sedangkan sekolah yang terpaksa memulangkan siswanya adalah SMKN 1 Sampang yang ada di Jalan Syuhada, SDN Pasean di Jalan Raya Pasean. SMP Aburasyad Jalan Imam Bonjol dan SMPN 6 Sampang di Jalan Imam Bonjol tepatnya di Kampung Pangarangan.

Kasatlantas Polres Sampang AKP Suharyanto melalui KBO Lantas Iptu Harifi mengatakan, penutupan jalan terpaksa dilakukan karena volume air semakin siang semakin tinggi. "Ada beberapa jalan yang kita tutup. Sebab, ketinggian air sudah tidak bisa dilalui oleh kendaraan," terang Harifi yang kemarin ditemui di perempatan Jalang Panglima Sudirman.

Terpisah, Kepala SMPN 6 Sampang Sufiatun saat dihubungi mengaku terpaksa memulangkan siswanya demi keselamatan mereka. Alasannya, semakin siang air tambah tinggi.

Selain itu, dari 290 siswa, kemarin hanya 40 persen yang datang ke sekolah. "Siswa di sini (SMPN 6 Sampang) banyak dari wilayah timur, seperti (Desa) Glisgis, Panggung, dan Baruh. Jadi, banyak siswa yang tidak bisa datang karena terjebak banjir. Demi keselamatan anak-anak, terpaksa mereka saya pulangkan lebih awal untuk belajar di rumah saja," tuturnya.

Terkait penyebab banjir, warga menduga meluapnya Sungai Kemoning diakibatkan air kiriman setelah beberapa wilayah di utara Sampang, termasuk Kota Sampang sendiri diguyur hujan selama dua hari. Selain itu, buruknya cuaca diperparah dengan kecilnya saluran air dan naiknya permukaan air laut.

Monisi, 52, pengguna jalan yang melintas di Jalan Melati mengatakan, air mulai naik sejak pagi buta. "Dari subuh air sudah tinggi. Tetapi, sebelumnya tak sebesar ini. Ini sudah biasa terjadi di sini. Setiap tahun minimal tujuh kali (banjir) Mas. Mungkin karena saluran air yang sudah tidak mampu menampung air kiriman dari utara," terangnya.

Lain halnya dengan Siti, 29, warga Desa Panggung. Banjir kemarin sampai menggenangi rumah ibu dua anak ini. "Masuknya air (banjir) ke rumah itu pukul 12 malam. Jadi, dari pagi anak saya tidak sekolah," tuturnya.

Ditanya sudah berapa kali rumahnya terkena banjir, Siti mengatakan, pada 2010 ini sudah lebih dari 20 kali rumahnya kena banjir. "Ya, kalau 20 kali lebih. Wong satu minggu saja kadang sampai lima kali banjir. Ini akibat selokan yang tidak berfungsi. Jadi, tiap datang hujan pasti banjir," ungkapnya. (fei/mat)