Kamis, 02 September 2010
 
   Radar Bojonegoro
[ Senin, 04 Agustus 2008 ]
Penting, Mengenali Bakat Anak Sejak Dini
BOJONEGORO - Karena dinilai kurang pas dengan kondisi kekinian, berpikir linier sudah ditinggalkan banyak orang. Namun, kebanyakan balita diprogram orang tuanya secara linier. Yakni dengan memasukkannya pada kelompok bermain dan sekolah formal mulai SD hingga perguruan tinggi. Dengan harapan kelak mereka dapat bekerja secara layak.

Belum banyak yang menyadari bahwa kenyataan di lapangan, warga masyarakat yang berhasil mayoritas bukanlah orang yang mendapat nilai bagus di sekolahnya. ''Menurut hasil sebuah kajian, sepertiga dari profesional sukses adalah orang yang memiliki IQ rendah,'' kata Kalis Purwanto dalam seminar betema pentingnya menegenali bakat sejak dini untuk capaian puncak prestasi anak. Acara yang dilaksanakan Primagama itu bertempat di gedung PCK Bojonegoro kemarin (3/8).

Lantas? Menurut Kalis, tidak ada dinamika yang tidak mencerdaskan. Artinya, harus ada upaya pengembangan kecerdasan majemuk. Yakni dengan mengembangkan tingkat kecerdasan anak di banyak bidang.

Sebab, pada dasarnya setiap manusia memiliki delapan komponen dalam kecerdasan. Disamping kecerdasan logis-matematik, liguistik-verbal serta kecerdasan spasial visual, terdapat lima komponen lain yang mendukung. Kelima unsur itu adalah kecerdasan kinestetik-jasmani, ritmik-musical dan intrapersonal. ''Juga, kecerdasan interpersonal serta kecerdasan natural,'' jelasnya.

Dengan demikian, lanjut Kalis, orang tua dituntut mampu mendeteksi dan mengenali bakat anak sejak dini agar dapat memberikan pendidikan yang sesuai bakat tersebut. Belakangan, seorang ilmuan asal Singupura telah menemukan teknologi pendeteksi bakat, yang disebut dermatologyphics multiple intelegence (DMI). Di Indonesia, pemegang lisensi teknologi ini adalah Primagama.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro Suyoto yang menjadi keynote speaker dalam acara tersebut mengatakan, DMI cukup positif untuk menunjang peningkatan sumberdaya manusia dan kualitas dunia pendidikan. ''Dengan DMI ini kita dapat mengetahui potensi yang ada di dalam diri anak. Apakah otak kanan ataukah otak kiri yang paling dominan,'' jelasnya. Dalam kesempatan itu Suyoto juga memanfaatkan DMI untuk mendeteksi potensi dan bakat dalam dirinya.

Teguh Riyanto, kepala OPS Primagama Cabang Tuban-Bojonegoro menambahkan, permintaan testi DMI yang masuk ke laboratorium di Jogjakarta setiap harinya mencapai seratus orang. Testi itu berasal dari 250 cabang DMI di seluruh Indonesia. (dim)