[ Selasa, 09 September 2008 ]
Flu Burung Muncul Lagi
365 Ayam Mati Mendadak di Tujuh Kecamatan
BANGKALAN-Kasus flu burung kembali muncul di Bangkalan. Sejak awal Maret hingga Agustus 2008, wabah avian influenza (AI) diperkirakan telah melanda tujuh kecamatan. Yakni, Bangkalan, Burneh, Kamal, Socah, Tanah Merah, Arosbaya, dan Geger.
Virus mematikan yang bisa menular kepada manusia ini telah merenggut nyawa 356 ayam kampung. Ratusan ayam itu mati mendadak. Setelah dilakukan rapid test (tes cepat flu burung), petugas menyatakan ayam yang mati mendadak itu positif flu burung. Beruntung, hingga kini belum ada kasus flu burung di Bangkalan yang menular pada manusia.
Berdasarkan data di Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Bangkalan, dalam lima bulan terakhir muncul 16 kasus flu burung. Kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Burneh dengan lima kejadian. Disusul Bangkalan dengan empat kejadian, Kamal dan Tanah Merah masing-masing dua kejadian. Di Socah, Kamal, dan Geger masing-masing satu kejadian.
Jika dibandingkan 2007, jumlah kejadian lebih kecil. Tahun lalu muncul 27 kejadian dengan jumlah ayam mati 962 ekor. Sedangkan tahun ini muncul 16 kejadian dengan 365 ekor ayam mati.
Hanya, tahun ini daerah penyebaran wabah flu burung lebih luas, yakni tujuh kecamatan. Sementara pada 2007 hanya lima kecamatan, meliputi Geger, Bangkalan, Socah, Burneh, dan Kamal.
"Artinya, daerah penyebarannya (virus flu burung) sudah merambah ke Tanah Merah dan Arosbaya," terang Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) drh Syahrul Mukarrom mendampingi Kadispertanak Bangkalan Ir Ellija Rosijana di kantornya kemarin.
Dari sejumlah kasus tersebut, menurut Syahrul, dispertanak sudah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Mulai penyemprotan (disinfeksi), vaksinasi, dan pengandangan. Hanya, yang sulit dilakukan adalah isolasi unggas agar tidak keluar dari daerah munculnya wabah flu burung.
"Kebijakan Dirjen Peternakan (ayam di sekitar lokasi) memang tidak dimusnahkan. Tapi dikandangkan," kata Syahrul. Namun begitu, tambahnya, pengawasan di daerah terjangkit tetap intensif dilakukan.
"Sulit untuk mengisolasi (unggas) di daerah yang terkena flu burung. Karena tidak ada pemusnahan, terkadang masyarakat menjual ke pasar dengan sembunyi-sembunyi," timpal Azisun Hamid, Kasi pemberantasan dan pencegahan penyakit hewan (P3H).
Karena itu, dispertanak minta partisipasi masyarakat mengatasi serangan flu burung. Salah satunya dengan melaporkan dengan cepat jika ada unggas mati mendadak. Selain itu pengandangan unggas jika ada kasus positif flu burung. Lalu, dilakukan vaksinasi dan penyemprotan. (tra/mat)