[ Selasa, 07 Oktober 2008 ]
Salah Minum Obat, Tubuh Melepuh
NGAWI - Hati-hati meminum obat. Diduga salah menenggak antibiotik tanpa konsultasi dokter, Wati Rahmawati, 31, warga Desa Dinden Kwadungan harus menanggung derita. Tubuhnya melepuh dan bagian terparah di bibir, mata mengatup dan lengket serta luka lecet di beberapa bagian.
Kemarin, Wati dilarikan ke UGD RSU Dr Soeroto Ngawi setelah seharian tidak bisa makan dan minum. Peristiwa itu terjadi September saat dia mengeluh sariawan. Suaminya Dul Kemis memberikan obat amoxicillin. Suaminya membelikan obat untuk istrinya di sebuah toko di Kendung.
Dia mengaku hanya coba-coba dan berharap istrinya sembuh meski obat itu dibelinya bebas tanpa resep dan bukan di toko obat atau apotek. Menurut Dul Kemis istrinya menelan tablet itu tiap pagi dan sore masing-masing satu pil. Setelah beberapa hari, timbul bintik berair di bagian tangannya.
Tapi, Wati masih sempat menghabiskan hingga satu kemasan. ''Munculnya bintil-bintil itu beberapa hari setelah minum obat. Setelah pecah menyebar ke bagian tubuh lainnya,'' kata Dul Kemis.
Parahnya, pihak keluarga menyangka Wati terkena guna-guna sehingga tak pernah dibawa berobat ke Puskesmas atau dokter. Sebulan lebih Wati tak kunjung membaik. Bahkan semakin banyak luka di tubuhnya. Kulit wajahnya juga ikut mengelupas dan melepuh.
Luka di bibirnya yang mulai mengering malah terlihat hitam dan menebal. ''Luka-lukanya sebagian mulai mengering sehingga kaku kalau digerakkan sakit. Dia juga tak bisa jalan karena kakinya juga ada luka,'' jelas Dul Kemis.
Sebulan lamanya Wati hanya bisa tiduran, dan belum ada pengobatan medis yang diupayakan. Apalagi lingkungan sekitarnya juga tak banyak yang tahu penyakit itu. Mata Wati berair dan lengket sehingga hanya bisa merem. Dia juga tak bisa menggerakkan bibir untuk bicara. Menurut Sariati, ibu Wati, anaknya berkomunikasi dengan menulis. ''Walaupun terpejam ya bisa dipahami kok tulisannya,'' kata Sariati.
Langkah membawa Wati ke rumah sakit kemarin karena seharian dia mengeluh sakit serta tak bisa makan kecuali minum air putih. Akibat terlalu lama sakit, badan Wati kurus dan kekurangan nutrisi. Bobotnya hanya 28 kilogram. Dia dirawat di ruang perawatan 3 sebagai pasien JPS.
Menurut dr Indah Pitarti yang merawat Wati di UGD, sementara ini diagnosa mengarah pada Steven Johnson Syndrome. Yakni, sindrom reaksi penolakan tubuh atas obat tertentu. ''Daya tahan tiap orang atas pengaruh obat tidak sama. Apalagi bila obat diberikan tanpa pengawasan dokter,'' kata Indah.
Menurut Indah Pitarti tim medis memberikan obat antibiotika jenis berbeda sembari berusaha mengembalikan kondisi umum dan kekurangan nutrisi yang dialami pasien. ''Kami usahakan untuk memulihkan kondisi tubuhnya serta mencegah infeksi. Sebab terlalu banyak luka di badan pasien," tambahnya. (ari/irw)