Sabtu, 31 Juli 2010
 
   Radar Malang
[ Jum'at, 19 Desember 2008 ]
Bangun Citra, Jangan Tutup Berita Negatif
MALANG - Kejujuran harus dijunjung tinggi oleh seorang petugas hubungan masyarakat (humas) dalam menyajikan berita. Sebab, tujuan memberikan rilis berita kepada media (cetak, radio, elektronik) adalah menciptakan pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan sesuatu hal. Bukan semata-mata menyebarkan suatu pesan sesuai keinginan demi mendapatkan suatu citra yang lebih indah dari aslinya.

Pentingnya kejujuran bagi seorang humas kemarin menjadi salah satu bahasan penting Workshop on Modern Strategic Public Relations, di Widyaloka, Universitas Brawijaya. Dalam acara bagian dari roadshow lima kota itu, hadir A. Hadiansyah Lubis (kepala departemen marketing dan public relations Trans TV) dan Imam Syafi'i, (Pimred JTV).

"Dengan bersikap jujur dan mengutamakan kepentingan masyarakat, maka dengan sendirinya menciptakan citra positif bagi instansi atau perusahaan tempat sang humas itu berada," saran Imam dalam acara kerja bareng Universitas Brawijaya, Radar Malang, Indo Pos dan Sampoerna ini.

Untuk mempermudah sikap jujur itu, lanjut Imam, maka instansi lebih baik memperbaiki kondisi intern perusahaan lebih dulu sebelum melakukan pencitraan. Pembenahan dilakukan agar perusahaan telah siap ketika mendapatkan berbagai pertanyaan seputar kondisi instansi bersangkutan. Perbaikan internal itu, sekaligus mempermudah humas untuk berkreasi membangun citra. Bukan malah sibuk menutup hal negatif yang terekspos keluar.

Selain jujur, seorang humas wajib memahami karakteristik media, kemampuan mengorganisasi acara media, dan kemampuan jurnalistik standar.

Sementara Hadi, sapaan Hadiansyah Lubis menekankan pada pentingnya kecepatan seorang humas dalam mengatasi krisis. Yang dimaksud krisis adalah ketika ada berita yang membuat citra negatif.

Menurut mantan off air promotion coordinator Trans TV ini, manajemen krisis yang layak diterapkan oleh instansi adalah identifikasi, isolasi, dan tangani. Dalam proses identifikasi masalah, seorang public relation (PR) harus jujur dan teliti. Sehingga bisa diketahui masalah yang sebenarnya.

Setelah itu, seorang humas juga harus pandai mencegah masalah meluas. Salah satu caranya dengan menyajikan fakta objektif dan tidak menghindari kejaran wartawan. "Setelah itu baru melakukan tindakan. Misalnya memberikan sanksi kepada oknum, atau mengubah cara dan sistem agar tidak terulang lagi kejadian yang membuat negatif citra isntitusi," kata Hadi.

Ave Rosa A. Djalil, Ketua Panitia Workshop PR mengungkapkan, pihaknya ingin memadukan keterampilan PR dengan jurnalistik. Sebab saat ini keduanya sangat berhubungan. Karena kombinasi itulah, maka seyogyanya seorang PR harus punya strategi berita, harus bisa menulis, dan kreatif. (yos/lia)