[ Rabu, 24 Desember 2008 ]
Perempuan Pilih Caleg Perempuan
JOGJA - Orientasi parpol terkait kuota 30 persen perempuan dalam pemilu legislatif baru sebatas memenuhi undang-undang. Padahal, caleg perempuan yang diusung parpol harus mengerti dan pro terhadap keadilan gender.
"Celeg dari perempuan belum tentu peduli dengan keadilan gender. Lha, yang kita butuhkan itu caleg yang peduli terhadap keadilan gender atau caleg perempuan?" ujar Direktur PSKK UGM Prof Dr Muhadjir Darwin pada acara launching buku Menembus Batas Politik Perempuan Indonesia: Mendobrak Tabir Sosial, Budaya dan Agama di Hotel Saphir Jalan Laksda Adisucipto kemarin.
Acara ini juga menghadirkan Ketua PP Aisyiah Noordjanah Djohantini MSi MM, Ketua LSIP Dr Zuly Qodir dan Sosiolog UGM Dr Partini.
Muhadjir mengingatkan tujuan penerapan kuota 30 persen perempuan untuk memperjuangkan perempuan dalam membuat arah kebijakan yang memihak kaum perempuan.
"Yang menjadi masalah, caleg perempuan tidak mempunyai kepekaan terhadap keadilan gender," kata Muhajir.
Sosiolog UGM Dr Partini mengungkapkan 12 dari 34 parpol peserta Pemilu 2009 belum memenuhi kouta perempuan.
"Bahkan, ada satu parpol yang tidak mempunyai caleg perempuan. Kalau pun ada parpol yang sudah memenuhi kuota, hanya sebagai pelengkap saja," jelas Partini.
Namun, Partini tidak menyebutkan parpol yang dimaksud. Ia hanya meminta parpol jangan hanya memikirkan aspek kuantitas untuk memenuhi kuota 30 persen.
Ketua LSIP Dr Zuly Qodir menjelaskan jika ingin mewujudkan keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen, perempuan harus memilih caleg perempuan.
"Perempuan harus menjadi mitra perempuan dalam politik. Baru kemudian laki-laki menjadi mitra perempuan," kata Zuly.
Zuly mengakui, ada problem soal kapasitas dan sensitivitas gender dari caleg perempuan. "Tetapi, harus dicoba perempuan memilih perempuan," pintanya.
Mendukung keterwakilan 30 persen perempuan, gerakan perempuan harus melakukan konsolidasi antar-perempuan.
"Collection action sebagai strategi memperjuangkan perempuan dalam politik," katanya.
Zuly berpandangan, langkah paling strategis tatkala perempuan masih dipandang sebelah mata adalah berjuang bersama berdasarkan visi, misi, kegiatan, sumber dana, sumber daya manusia dan manajemen. (cw1)