Sabtu, 31 Juli 2010
 
   Radar Bojonegoro
[ Senin, 02 Februari 2009 ]
Saat Banjir Mulai Menyapa Warga Cepu
Khawatir Banjir Besar Setahun Lalu Terulang

Air luapan Bengawan Solo mulai menyapa sejumlah warga 14 desa di tiga kecamatan di Kabupaten Blora kemarin (1/2). Meski ketinggian air belum mengkhawatirkan, warga tetap cemas.

SRI WIYONO, Blora

----------------------------------------

Seorang perempuan paro baya berjalan menerjang air yang menggenangi halaman rumahnya di lingkungan Balun Nggendeng, Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, kemarin siang. Air setinggi lutut itu terlihat keruh. Banyak sampah ikut terseret. Kaki rentanya terus saja menerjang air, sementara tangannya menenteng peralatan dapur. Perempuan itu, menuju ke arah rel kereta api (KA) yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya.

Setelah meletakkan barang-barang itu di pinggir rel, perempuan ini balik lagi ke rumah. Kali ini, dia keluar dengan membawa sebuah kasur dan beberapa bantal yang digulung di dalamnya. Begitu juga seorang ibu, anak dari perempuan tua itu juga hilir mudik mengangkut barang dari dalam rumah.

Sementara air terus meninggi. Di dalam rumah perempuan itu, air sudah menggenangi setinggi 20 sentimeter. "Rumah saya sudah tergenang. Lebih baik bersiap mengungsi daripada nanti terlambat,'' ujar Kasni, 55, nama perempuan tersebut.

Sangat beralasan apa yang disampaikan Kasni. Maklum, daerah tempat tinggalnya selama ini menjadi langganan banjir. Hampir setiap tahun air luapan Bengawan Solo yang meski jaraknya cukup jauh dari rumahnya, selalu menyapa. Sebelumnya, ketinggian air yang hanya 20 centimeter di dalam rumahnya adalah hal biasa. Sebelum banjir besar Januari 2008 lalu. Karena itu, kali ini warga lebih waspada, termasuk Kasni. ''Tahun lalu airnya segini,'' ujar nenek dua orang anak ini sambil menunjuk atas rumahnya.

Berkaca pengalaman tahun lalu, kali ini Kasni dan keluarganya harus mulai mengemasi dan mengungsi. Toh tempat pengungsiannya juga tidak jauh dari rumahnya. Yakni di sepanjang rel KA di dekat stasiun Cepu. Di tempat itu dia mulai mendirikan tenda dari terpal plastik. Barang-barang yang dia usung dari rumah juga diletakkan di bawah tenda.

"Itu di sana, terlihat dari sini,'' ujarnya, sambil menunjukkan sebuah tenda terpal warna coklat yang warnanya mulai memudar, saat ditanya mau mengungsi ke mana.

Hal yang sama disampaikan Masitah, 40, warga Balun Nggendeng. Kemarin, dia dan suaminya yang mempunyai usaha tambal ban di depan rumah itu harus menghentikan aktivitasnya. Meski saat koran ini wawancara dengannya ada beberapa orang yang minta ban sepedanya ditambal, ditolak oleh Masitah. Alasannya, suaminya sedang sibuk membuat tenda di pinggir rel KA, seperti warga lainnya. Sehingga, seharian kemarin dia harus kehilangan pendapatan. ''Ini baru kok naiknya, tadi pagi airnya tidak sampai sini.''

Melihat kecenderungan air terus naik, meski belum masuk rumahnya, Masitah mulai khawatir. Apalagi, di jalan depan rumahnya, air setinggi 20 centimeter. Dia pun mulai mengerahkan anak-anaknya untuk berkemas. Ibu tujuh anak itu mengaku masih trauma dengan banjir besar Januari 2008 lalu. Saat itu, rumahnya yang dekat gapura masuk kawasan Nggendeng saja terendam sehingga hanya tinggal atapnya. ''Kejadiannya begitu cepat, sehingga tak sempat membawa barang-barang,'' tuturnya.

Karena itu, sebagian barangnya hilang karena terbawa arus atau rusak lantaran terendam beberapa hari. Kali ini dia berjaga-jaga. Apalagi sekarang dia sedang mengandung sembilan bulan anaknya yang ketujuh. "Jadi, dalam kondisi hamil saya harus tidur di pinggir rel KA,'' ungkapnya.

Memang, kali ini warga semakin waspada. Mereka benar-benar trauma dengan banjir tahun lalu itu. Saat koran ini menyambangi kawasan ini kemarin siang, beberapa tenda pengungsian sudah berdiri di pinggir rel, lengkap dengan perabotan, mulai lemari sampai alat masak. Sedangkan warga yang lain juga terlihat sibuk untuk mulai mendirikan tenda.

Padahal, tahun lalu saat ketinggian air sudah sekitar satu meter di dalam rumah, banyak warga yang menolak dievakuasi. Mereka mengira banjir segera surut, seperti yang sudah sudah. Namun, saat air terus naik hingga mencapai rumah, warga mulai panik dan berebut minta dievakuasi.

Saat itu, tim SAR dari pemkab dibantu tim SAR provinsi serta dari TNI/Polri menjadi sedikit gusar karena kerja mereka sedikit diganggu dengan permintaan evakuasi lebih. ''Kami benar-benar khawatir banjirnya seperti tahun lalu. Semoga saja tidak,'' harap Nurkamdi, 60, warga lainnya. (*)