[ Selasa, 17 Juni 2008 ]
Seger Priantono, Wisudawan Terbaik Universitas Panca Marga Probolinggo
Tak Mau Kalah dengan Yang Muda
Sabtu (14/6), Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo melakukan wisuda sarjana. Ada nama Seger Priantono, 37, yang dinyatakan sebagai wisudawan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,73.
YATIMUL AINUN, Probolinggo
-------------------------------------------
Hari itu wajah Seger Priantono tampak sumringah. Gelar sarjana ekonomi berhak disandangnya. "Alhamdulillah, kuliahku sudah selesai. Saya diberi kemampuan dan kekuatan untuk menjalaninya sampai selesai," tutur Seger usai prosesi wisuda. Di sampingnya, sang istri, Cholifah, mengangguk ringan.
Di akhir studinya, seger menulis skripsi dengan mengambil PT Kertas Leces sebagai sasaran penelitian. Dia mengambil judul "Perbandingan Penerapan Metode Net Basis dengan Metode Gross Up dalam Perhitungan PPH Pasal 21 Karyawan dan Dampaknya Terhadap PPH Badan PT (Persero) Kertas Leces Probolinggo".
Seger lahir di Kencong, Jember, pada 7 Mei 1971. Selepas SMA, anak pasangan Adi (alm) dan Sukatini ini tidak langsung kuliah. Karena kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Seger memilih mengalah. Adik kandungnya, Syaiful, 33, yang justru lebih dulu dikuliahkan.
Seger sendiri memilih bekerja. Pada 1991 ia diterima bekerja di PT Kertas Leces Kabupaten Probolinggo. Dia ditempatkan di bagian pajak dan asuransi. Pada 1994, Seger menikahi gadis pujaan hatinya, Cholifah. "Tapi, walaupun sudah kawin, saya tetap ingin menjadi sarjana. Ingin melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah," kisah Seger yang kini tinggal di Jl Gubenur Suryo Kota Probolinggo.
Setelah sang adik lulus kuliah, barulah Seger mengejar cita-citanya jadi sarjana. Pada 2003, dia memilih kuliah di UPM Probolinggo, fakultas ekonomi jurusan akuntansi.
Saat masa-masa awal kuliah, istrinya sedang hamil 8 bulan. Kondisi itu tak membuat Seger patah semangat. Dia tetap menjalani kuliah. Cuaca mendung bahkan hujan deras pun tak pernah membuatnya jadi malas kuliah. "Walau hujan deras-deras Mas, saya tetap berangkat untuk kuliah. Demi pendidikan dan untuk meningkatkan pengetahuan saya," kata Seger.
Kuliah strata satu di umur yang tidak muda lagi, sempat membuat risi perasaan Seger. Tapi, bapak dari anak bernama Fahriyadi, 13, dan Nouval Ikhwan, 4,5, ini membalik perasaan risi itu menjadi pelecut semangat. "Saya berpikir dalam hati, masak yang tua mau kalah sama yang muda. Walau saya sudah tua, tidak boleh kalah dengan anak muda," ungkap Seger.
Saat ini, Seger sangat bahagia. Dia merasa sudah mampu memberikan pelajaran kepada anaknya untuk cinta terhadap pendidikan. Dan itu dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dia punya anak, ia tidak lupa untuk mengajari anaknya terlebih dahulu, sebelum dirinya menyelesaikan tugas kuliahnya.
"Setelah salat Maghrib, saya ngajari anak dulu, baru mengerjakan tugas-tugas kuliah saya. Setelah itu, baru memikirkan tentang pekerjaan saya di PT Kertas Leces. Itu menurut saya yang sangat baik dilakukan untuk anak kita," ujarnya.
Menjadi wisudawan terbaik di UPM memunculkan secercah harapan dalam benak Seger. Ia berharap mendapat penghargaan dari tempat kerjanya, PT Kertas Leces. (*)