[ Senin, 23 Februari 2009 ]
Melihat Lebih Dekat Perajin Barongan di Blora
Meski Sulit Memasarkannya tapi Tetap Berkarya
Bagi Wiji Pramono alias Gacu, menjalani profesi sebagai perajin topeng barongan tidak mudah karena membutuhkan dedikasi dan ketekunan. Meski saat ini sulit bahan baku dan memasarkan hasil karyanya. Namun, Gacu tetap berkarya mempertahankan kesenian khas Blora ini.
SRI WIYONO,Blora
---
Lelaki itu terus mengusap-usap permukaan dan rambut topeng kayu yang sudah dicat dengan dominasi merah tersebut. Sesekali rambut di topeng itu diberi minyak dan dielus-elus hingga wajah dan rambut topeng itu tampak mengkilap. Selesai satu topeng, tangan lelaki itu mengambil topeng lain yang ada di dekatnya. Kembali pekerjaan serupa dilakukan lelaki tersebut. Pekerjaan itu dilakukan di sebuah bengkel kecil di Kelurahan Tegalgunung, Kecamatan Blora. ''Ini proses terakhir, harus digosok-gosok agar tampak kinclong,'' ujar Wiji Pramono alias Gacu, nama lelaki itu menerangkan pekerjaan yang dia lakukan siang itu.
Menjadi perajin barongan, meski tidak menjadi pekerjaan utamanya, sudah dilakukan sekitar 21 tahun lalu sejak 1988. Pekerjaan itu diawali saat dia masih muda dan sering ikut terlibat dalam pembuatan kesenian khas Blora tersebut. Kala itu, seni barongan masih menjadi kesenian yang populer dan masih sering dimainkan. ''Saya dulu hanya membantu pada sesepuh desa untuk membuat barongan. Akhirnya malah keterusan,''ujarnya.
Pekerjaan utamanya adalah tukang cat dengan spesialiasi mobil. Karena itu, dia ahli benar dalam soal warna cat, juga teknik mengecat seperti airbrush dan sebagainya. Keahlian itulah yang menjadikan barongan buatannya diminati banyak orang. Karena ketrampilan mengecatnya menjadikan kepala barongan atau topeng pengiring barongan yang dia buat menjadi lebih hidup. ''Tergantung pemesan, mau dicat biasa atau di airbrush,'' katanya.
Meski pemasarannya sulit, namun dia tetap terus berkarya. Hanya, saat ini dia mengaku sudah mulai kesulitan mencari bahan bakunya. Untuk kayunya, dia menggunakan kayu jenis dadap atau elo yang kuat namun ringan. Kuat karena topeng atau kepala barongan dari jenis kayu ini tidak akan pecah meski dibanting. Namun, ringan sehingga nyaman dipakai. Selain kayu, dia biasa juga menggunakan kulit kidang, kambing atau sapi yang berwarna coklat untuk membuat kepala barongan yang berwujud harimau. Untuk rambutnya dia bisa menggunakan buntut sapi juga juk. ''Untung belang-belangnya kita menggambar sendiri,'' ungkapnya. Di sinilah keahlian gacu terlihat, karena modifikasi antara cat dan kulit binatang itu menjelma menjadi kulit harimau belang yang sangat mirip.
Bapak dua anak itu menuturkan, hasil karyanya tidak pasti setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan laku. Namun, dia tidak mundur. Jika punya waktu luang dia terus saja berkarya, sepanjang dia mempunyai bahan. Harga jualnya juga bervariasi mulai Rp 75 ribu untuk topeng penthul, yakni topeng yang digunakan untuk pemain pengiring barongan. Sedangkan untuk kepala barongan yang berbentuk kepala harimau dia biasa menjual seharga Rp 850 ribu sampai Rp 950 ribu. ''Terkadang ada yang membeli untuk hiasan rumah atau kenang-kenangan,'' ujarnya.
Sedangkan, untuk satu set barongan yakni terdiri dari satu kepala barongan dengan lima penthul dia biasa menjual Rp 1,6 juta. Barongan yang dia jual kualitasnya cukup bagus, sehingga banyak kelompok barongan yang datang kepadanya jika ingin membeli peralatan. Dia mengaku sering menerima order membuat satu set barongan. Order itu biasanya dia dapat dari saat anggaran pemerintah sudah keluar.''Karena yang minta itu kelompok barongan yang mendapat bantuan dari pemerintah,'' ungkapnya.
Bagaimana dengan saat bulan Agustus atau saat hari jadi Blora ? Karena saat itu biasanya banyak kegiatan yang juga sering menampilkan barongan. Bahkan juga ada festival barongan tingkat kabupaten. Untuk even seperti itu, dia mengaku jarang menerima order jadi, artinya order yang untuk membuat dari awal.''Justru yang banyak order reparasi barongan yang sudah lama tidak digunakan,'' katanya sambil tersenyum.
Gacu menyebut, dia bisa membuat satu kepala barongan dalam waktu satu minggu dengan catatan semua bahan sudah tersedia dan dia hanya konsentrasi untuk membuatnya. Sebab, selama ini yang dia lakukan, pekerjaan membuat barongan hanya sampingan saja. Untuk satu topeng kecil dia bisa menyelesaikan dalam waktu satu hari.
Sebenarnya, keuntungan yang dia dapat dari membuat barongan itu cukup lumayan, jika sudah laku. Untuk satu buah kepala barongan dia mengaku menghabiskan modal sekitar 400 ribu. Jika harga jualnya Rp 850 ribu, beratti dia sudah untung Rp 450 ribu. Hanya, untuk bahan utamanya kayunya itu dia yang harus mencari sampai ke pelosok-pelosok desa sehingga membutuhkan waktu lama. ''Lumayan kalau pas ada yang membeli tandasnya. (*)