Sabtu, 31 Juli 2010
 
   Radar Malang
[ Rabu, 15 April 2009 ]
Melihat Aktivitas Pecinta Layang-Layang Kreasi di Malang
Pilih Buatan Bali-Jogja atau Luar Negeri

Di Asia Tenggara, hobi layang-layang kreasi (hias) makin diseriusi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Bahkan ada wadah yang namanya ASEAN Kite Council. Bentuk fisik layangan pun makin berkembang. Dari yang dulu berwujud jajaran genjang dari kertas, kini sudah ada yang berupa mirip balon udara dari bahan parafoil. Bagaimana di Malang?

Yosi Arbianto

---

Musim penghujan hampir habis. Angin yang bertiup di lapangan Rampal Sabtu sore cukup kuat. Mentari tidak lagi menyengat. Sebagian sinarnya tertutup awan putih. Syamsul, warga Jalan Jaksa Agung Suprapto Gang 2 Kota Malang, tampak sibuk menarik benang layangan berbentuk burung.

Layangan dari bahan kain itu tak kunjung bisa mengudara. Bisa jadi, perasaan Syamsul sedikit kesal. Sebaliknya, bocah tiga tahun di sebelahnya bertambah riang melihat layangan burung itu terbang sebentar, lalu jatuh ke tanah. Berkali-kali begitu. "Lagi Pak, lagi....tarik....," teriak sang anak kepada Syamsul.

Lima belas menit sebelumnya, Syamsul membeli layangan kreasi (hias) itu di salah satu toko yang ada di sisi utara lapangan Rampal. Kepada Radar, Syamsul mengatakan ingin memberikan hiburan kepada anak lelakinya. Dia ingat saat muda dulu sangat senang bermain layang-layang. Kesenangan itu dia pandang akan sama dirasakan anaknya. "Saya ingin nyoba saja buat hiburan anak saya," kata Syamsul.

Bermain layang-layang kreasi seperti yang dilakukan Syamsul mulai bisa ditemukan menjelang musim kemarau. Lapangan Rampal salah satu lokasi yang mudah dijangkau untuk wilayah perkotaan. Lokasi lainnya yang biasanya digunakan penghobi layang-layang hias adalah perumahan Puncak Tidar, tanah kosong di Perum Sawojajar II, dan seputar jalan tembus Gadang-Bumiayu.

Kalau dibandingkan, jumlah masyarakat yang bermain layang-layang hias di Malang sangat sedikit dibandingkan pemain layang-layang sambitan (kombat). Persatuan Penghobi Layang-Layang Indonesia (Perpoli) Malang mencatat, tidak lebih dari satu persen warga Malang yang bermain layang-layang hias. "Jarang untuk Malang yang suka main layang-layang kreasi. Bisa dihitung jari," ungkap Ahoed D.C., ketua Perpoli Malang.

Karena jarangnya warga yang bermain layang-layang kreasi -untuk rekreasi maupun hobi- di Malang, nyaris tidak ada perajin layang-layang kreasi. Sebagian besar perajin memilih membuat layang-layang sambitan. Kalau toh ada yang membuat layang-layang nonsambitan, jenisnya layangan sowangan. Sesuai standar Perpoli, layangan sowangan (berbentuk seperti sayap lebah dan bisa berbunyi) tidak termasuk layang-layang kreasi.

Mundir -salah seorang perajin layang-layang dari Gondanglegi- mengakui sulitnya menemukan pembuat layang-layang kreasi di Malang. Dia sendiri bertahun-tahun hanya menekuni pembuatan layang-layang sambitan. Ia belum berpikir mengembangkan ke arah layang-layang hias. "Nanti kalau membuat, apa bisa terbang," katanya ketika dihubungi via telepon kemarin.

Jumlah penghobi yang membuat sendiri layang-layang kreasi juga nyaris tidak ada. Sebagian besar penghobi mengandalkan layang-layang buatan daerah lain. Misalnya Bali dan Jogja. Atau, menggunakan layang-layang impor dari China, Jerman, Prancis. Layangan impor dari China biasanya bernuansa anak-anak, gambar Doraemon, tokoh Manga, atau layang-layang bentuk sederhana dengan hiasan oriental. "Buatan China yang banyak masuk ke sini," ungkap Ahoed.

Harga layang-layang China relatif murah. Yang kecil sekitar Rp 30 ribu dan yang ukuran besar Rp 110 ribu. Sedangkan harga layang-layang dari Bali sekitar Rp 50 ribu. Tergantung ukuran dan dimensinya. "Layang-layang kapal ini dari Bali. Cuma Rp 30 ribu," kata Ahoed menunjukkan dagangannya.

Soal even permainan layang-layang hias, Malang ketinggalan dengan Bali dan Jogjakarta. Setiap tahun di Bali selalu digelar ekshibisi layang-layang hias. Berbagai daerah dan beberapa negara ambil bagian dalam ekshibisi layang-layang hias. Berbagai kreasi layang-layang ditampilkan. Misalnya bentuk tokek, naga, kodok, Superman, lingkaran, dan banyak lainnya. "Bali dan luar negeri, kreasinya macam-macam. Mereka sudah maju soal permainan layang-layang. Malang masih sepi," ungkap Ahoed.

Jenis layang-layang yang kini berkembang di ASEAN Kite Council, kata Ahoed, ada tiga besar. Yakni layang-layang satu dimensi, layang-layang tiga dimensi dengan rangka, dan layang-layang tiga dimensi tanpa rangka (parafoil). Layang-layang satu dimensi adalah layang-layang plain (datar). Layang-layang tiga dimensi dengan rangka bentuknya macam-macam. Hanya, untuk menyangga bentuk, ada rangka dari bambu. Sedangkan layang-layang tiga dimensi tanpa rangka menggunakan bahan parasut atau kain parafoil.

"Jerman, Prancis, China, dan Australia lebih maju permainan layang-layang hiasnya. Padahal di sini kan masyarakat sudah tak asing dengan layang-layang. Tetapi jarang yang terjun ke hobi layang-layang hias," ujar Ahoed. (yn)