Rabu, 10 Februari 2010
 
   Radar Bojonegoro
[ Sabtu, 16 Mei 2009 ]
Cerita Keluarga Mustaji yang Tiga Anaknya Meninggal Diduga karena Gizi Buruk
Penghasilan Kurang, Tak Ingin Nambah Anak Lagi

Mustaji, warga Desa Kalirejo, Kecamatan Banjarejo, harus menerima banyak ujian. Tiga dari lima anaknya meninggal dunia karena diduga kekurangan gizi. Terakhir, anaknya paling ragil meninggal saat masih berusia delapan bulan.

SRI WIYONO, Blora

------------------------

Suara berisik terdengar dari rumah berdinding gedek Desa Kalirejo, Kecamatan Banjarejo. Suara itu berasal dari perbincangan ibu-ibu. Mereka adalah ibu-ibu pengurus PKK kabupaten dan kecamatan Banjarejo yang mengunjungi rumah tersebut.

Para ibu itu duduk mengitari meja yang ada. Tak jauh dari lokasi mereka, seorang pasangan suami istri (pasutri) memperhatikan tingkah para ibu tersebut. Di depan Mustaji, 37, dan Jamini, 38, nama pasutri itu, dua anaknya bergelayut. Keduanya, Nursahid, 11, dan Parmin, 6.

Keluarga Mustaji Selasa (12/5) lalu kehilangan anak kelimanya. Kemarin (15/5) pasutri itu dikunjungi ibu-ibu PKK yang ingin ikut membantu meringankan penderitaannya.

''Maklum Mas, tidak punya kursi, ya seperti ini adanya,'' katanya ramah saat memersilakan wartawan koran ini duduk di kursi kayu panjang yang tempat joknya diganti bambu.

Bagi Mustaji, kehilangan anak bukan hanya sekali. Sebelum Sabarudin, nama anak terakhirnya meninggal, dia sudah kehilangan dua anak. Sehingga, dari lima anaknya, kini tinggal Nursahid dan Parmin yang hidup bersama dirinya.

Semua anak Mustaji laki-laki. Di lingkungan desanya, ada anggapan bahwa Jamini tidak akan berhenti melahirkan anak sebelum mendapat anak perempuan. ''Tapi, dengan kejadian ini saya jadi berpikir Mas. Nanti saya coba rayu istri saya untuk ikut KB,'' ujarnya.

Lelaki yang sehari-hari menjadi pemulung itu merasa berat menghidupi keluarganya. Paling banter, Mustaji maksimal hanya mendapatkan penghasilan Rp 10 ribu per hari. Karena penghasilannya yang tidak memadai itu, dia tidak bisa memberikan makanan yang baik bagi anak-anaknya. ''Rata-rata (penghasilan) Rp 7.500 sehari,'' akunya.

Karena kondisi itu, dia tak sanggup membeli susu bagi Sabarudin. Selain itu, dia juga tak bisa memberikan makanan khusus untuk bayi. ''Kondisinya memang seperti ini, jadi ya makan seadanya,'' ujar dia.

Selain menganggap kematian Sabarudin sebagai takdir, Mustaji menilai kondisi rumahnya yang kurang sehat menjadi penyebabnya meninggalnya putranya tersebut. ''Kata dokter karena flek paru-paru. Penyebabnya bisa karena asap bediang,'' tuturnya.

Karena keterbatasan ekonomi itu, kenang Mustaji, dirinya juga kehilangan anak keduanya saat berusia 16 tahun dan anak keempatnya bernama Sodikin. Saat itu, Sodikin meninggal dalam usia 13 bulan.

Karena sehari-hari dia, istri, dan anaknya yang lain makan nasi karak atau nasi aking, Mustaji juga memberikan nasi itu kepada Sodikin. Menurut dia, karak yang sudah dimasak lagi menjadi nasi itu dicampur dengan parutan kelapa. Akibat makanan tersebut, Sodikin keracunan. ''Saya juga tidak tahu wong anaknya itu makan dengan lahap,'' ujarnya.

Setelah makan, Sodikin muntah-muntah. Selanjutnya, dia dibawa ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Saat pulang, dia juga tidak mempunyai uang untuk menyewa ambulans. Anaknya yang sudah meninggal itu digendong. Dia kemudian meminta dibonceng motor tetangganya. ''Saat itu saya hanya punya uang Rp 200 ribu, sedangkan ambulans Rp 400 ribu,'' kenangnya.

Dengan banyaknya pengalaman itu, mengaku sudah mantap untuk tidak menambah anak lagi. Apalagi setelah dia mendapat banyak pelajaran dari rombongan ibu-ibu PKK tadi. ''Biar nanti anak saya bisa sekolah terus kalau tidak nambah adik,'' katanya.

Menurut dr Edhi Purnama, tim dari Puskesmas Banjarejo, Sabarudin memang meninggal akibat gizi buruk yang disertai penyakit bawaan. Penyakit itu, menurut mantan dokter tim Persikaba Blora ini, penyakit flek paru-paru dan radang otak. ''Istilah kedokterannya BrPn atau Brokopenemoni,'' katanya. (*)