[ Kamis, 02 September 2010 ]
Wanita-Wanita Perkasa di Meja Komando
Nyoman Ajak Anak Patroli, Usung Alat Masak ke Polsek
Di usianya ke 62 tahun yang jatuh kemarin, polwan terus menunjukkan jati dirinya. Salah satunya menempati sejumlah posisi strategis. Di Polres Malang, ada empat polwan yang setiap hari bergelut dengan anak buahnya yang mayoritas laki-laki.
Mardi Sampurno
---
EMPAT srikandi berpangkat perwira, pukul 06.30 kemarin terlihat turun jalan sibuk melakukan pengaturan lalu lintas di jalur poros Jl Raya Singosari. Mereka adalah Kapolsek Gedangan AKP Ni Nyoman Sri Efliadani, Kapolsek Tajinan AKP Yulita, Kabag Sumda Kompol Tutik Darmandari, dan Paur Samsat II Karangploso Iptu Cicik Darwati.
Pagi itu, mereka membawahi sekitar 18 polwan untuk turun jalan membantu masyarakat melakukan pengaturan arus lalu lintas dan menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada yang berdiri di pertigaan jalan, ada yang di depan sekolah, dan ada yang berada di depan pasar.
Meski tidak semua polwan berasal dari fungsi lalu lintas, namun mereka cukup piawai melakukan tugas dadakan tersebut. Karena tidak seperti biasanya, para siswa pun merasa terjaga. Ada yang ngalem minta digandeng para polwan ini. Mereka pun melakukannya dengan kasih sayang dan kelembutan layaknya seorang ibu.
"Hari ini memang pelayanan dilakukan agak berbeda. Semuanya serba wanita, karena hari ini adalah hari jadi korps kami (polwan),'' kata Nyoman, sapaan akrab Ni Nyoman Sri Efliadani, ditemui usai tugasnya kemarin.
Polwan kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-62. Peringatan dilakukan dengan cara sederhana, yakni menunjukkan kehadiran polwan di tengah-tengah masyarakat. Namun, siapa sangka dibalik kelembutan mereka dalam melayani masyarakat, sebenarnya mereka adalah wanita-wanita perkasa di bidangnya masing-masing. Mereka memiliki prinsip yang sama dalam bertugas, yakni urusan dinas jalan dan rumah tangga juga harus terjaga.
Nyoman, sejak sembilan bulan ini dia dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Gedangan. Sebagai kapolsek di daerah yang paling rawan kriminalitas di Malang Selatan ini tidak gampang. Karena dari tujuh desa yang ada di kecamatan itu, rata-rata medannya berbukit-bukit dan tandus.
Maraknya aksi perampokan dan perampasan di jalur lingkar selatan (JLS) menjadi menu sehari-hari ibu tiga anak ini. Kejar-kejaran dan duel dengan pelaku kejahatan yang dikenal sadis pun hampir setiap minggu dialami. Awal menerima tugas sebagai Kapolsek Gedangan, dia sempat ragu. "Pikir saya apa tidak salah pimpinan menugaskan saya,'' ujar wanita kelahiran Denpasar 15 Mei 1967 ini.
Karena tugas seorang pemimpin itu berat, utamanya harus bisa menjadi panutan anak buah. Terlebih medan di wilayah kerjanya cukup menantang. Sementara dirinya dirasa jauh dari kemampuan itu.
Namun suaminya yang menjabat sebagai Wakapolres Trenggalek Kompol I Made Arjana memberinya support agar terus maju dan melaksanakan tugas ini dengan sepenuh hati. "Alhamdulillah, sembilan bulan sudah saya lalui dengan lancar. Untuk prestasi, saya rasa tidak kalah dengan poslek yang dipimpin laki-laki,'' kata mantan Kanit UPPA Polres Malang ini.
Dukungan keluarga dirasa menjadi pilar utama dirinya bertugas. "Terutama dukungan anak-anak, mereka rela saja ajak tidur di polsek karena mamanya jarang pulang,'' ujar wanita dengan tiga anak ini.
Jauhnya jarak antara rumah dengan polsek sekitar 55 kilometer, membuat jadwal kepulangannya tidak dilakukan setiap hari. Dalam seminggu, dia menyempatkan dua hari di rumah. "Ikut patroli di desa-desa sambil bawa buku cerita pun dilakoni oleh anak saya yang terakhir (Ni Nyoman Maharani, 4) asal bisa jalan-jalan dengan mamanya,'' terang Nyoman.
Aksi kejar-kejaran dengan pencuri pun dilakukan. Seperti yang terjadi Sabtu (28/8) lalu. Dia bersama anak buahnya uber-uberan dengan maling motor di sebuah jalan setapak dengan mengendarai sepeda motor.
Sayangnya, dia gagal membekuk si pelaku. Apesnya, dia terjatuh dan sampai sekarang pinggangnya masih memar. Meski demikian Nyoman bangga bisa berbuat yang terbaik bagi kesatuannya.
Selama sembilan bulan bertugas, masyarakat sudah bisa menerima kehadiran pimpinan perempuan seperti dirinya. "Untuk menginterograsi pencuri tak selalu dilakukan dengan suara keras, namun kadang lebih ampuh dengan cara di-elus (dihalusi),'' katanya.
Sedangkan Yulita, wilayah kerjanya juga tidak bisa dianggap enteng. Berbekal kemampuan olahraga bela diri dan tubuh kekar yang dimiliki, dia menjadi polwan yang bisa bertahan lama di wilayah yang termasuk tingkat kerawan kriminalitasnya tinggi.
Dia menjadi Kapolsek Tajinan sejak 2006 lalu. Tidak jauh berbeda dengan Nyoman, Yulita memiliki kisah menarik selama empat tahun menjadi kapolsek. Hanya untuk kepentingan anak buahnya supaya konsumsi makan terjamin, dia rela memboyong peralatan masaknya di rumah ke polsek.
"Saya membuat dapur di polsek, tujuannya untuk membuatkan masakan anggota. Maklum jarang ada warung nasi di dekat-dekat polsek,'' kata Yulita.
Sebelumnya, jika mau cari makan harus ke pasar terlebih dahulu yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Akibatnya, yang sering terjadi tugas pelayanan menjadi terganggu. "Sekarang sewaktu-waktu mau makan tinggal memasak sendiri," ujar perwira yang menjanda dengan tujuh anak ini.
Menjadi kapolsek wanita dirasa memang susah-susah gampang karena selain harus bisa menjadi pimpinan, juga dituntut bisa menjadi teman ngobrol dan jika perlu sebagai ibu. Terkadang, sebagai wanita yang memiliki keterbatasan dibanding pria, ada kalanya harus mau mendengar apa kata anak buah yang rata-rata adalah kaum adam. Tujuannya tak lain adalah untuk memberikan pola komunikasi dua arah antara pimpinan dan anak buah.
Sedangkan Tutik Darmandari, mantan Kasubagmin Polwil Malang ini sekarang menjabat posisi strategis, yakni Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Polres Malang. Dialah yang mengatur alur penempatan personel.
Kecermatan sangat dibutuhkan dalam posisi ini. Sebagai anggota polwan, wanita yang sudah 29 tahun bertugas ini mengaku cukup beruntung. Karena jarang ada wanita yang memiliki kelebihan bisa menjadi polwan. "Tugas polisi ini tidak gampang lho, loyalitas yang diberikan pada satuan untuk pelayanan masyarakat itu tanpa batas. Bisa seharian penuh,'' kata mantan Kasatlantas Lumajang ini.
Apalagi dikaitkan dengan tugas kesehariannya yang berkutat dengan pengaturan personel, dibutuhkan ketelitian. Kejelian menempatkan personel sesuai dengan kemampuannya sangat dibutuhkan. "Jangan sampai menempatkan orang yang tidak sesuai dengan kapasitasnya," tegas dia.
Sementara Cicik Darwati, sebagai perwira urusan Samsat II di Karangploso, sudah kenyang pengalaman. Dialah ujung tombak pelayanan bagi masyarakat di delapan kecamatan di Kabupaten Malang yang mengurus seputar kelangkapan surat-surat kepemilikan kendaraan bermotor.
Tidak mudah melakukan tugas-tugas itu, karena harus pandai-pandai mengendalikan emosi masyarakat yang datang ke kantor samsat. "Sesuai dengan hirarki kewenangan, jika anak buah tidak mampu menangani masalah akan diambil alih oleh atasannya. Begitu juga dengan saya, jika anak buah tidak mampu menangani maka akan saya ambil alih,'' kata Cicik yang dikaruniai dua anak ini.
Permasalahan seputar pelayanan yang kerap ditemui adalah ketidakpuasan yang diberikan oleh anak buahnya. Jika ada kasus semacam ini, dia akan melacak awal permasalahannya. Apabila kesalahan dari anak buahnya, secara gentle diakui dan minta maaf.
Sebagai upaya perbaikan, keluhannya ditindaklanjuti agar tidak berlanjut di kemudian hari. Namun jika kesalahan bukan pada layanan yang diberikan anak buahya, dia akan memberikan penjelasan secara gamblang tentang prosedur dan syarat yang harus ditempuh. "Biasanya lebih gampang memberi penjelasan kepada laki-laki ketimbang perempuan,'' kata Cicik. (*/ziz)