[ Kamis, 16 Oktober 2008 ]
Anomali Krisis Keuangan Global dengan Industri Sepak Bola
Barca Beli Klub MLS, Pengusaha Inggris Kuasai Mallorca
Di tengah krisis keuangan global, industri sepak bola tetap bergeliat. Perekrutan pemain bintang dan akuisisi klub terus berjalan.
BARCELONA bukanlah klub terkaya di dunia. Mengacu daftar yang dirilis majalah Forbes per April 2008, El Barca (sebutan Barcelona) hanya menduduki peringkat ketujuh. Bandingkan dengan rival abadinya di Spanyol, Real Madrid, yang nangkring di peringkat kedua atau klub raksasa Inggris Manchester United yang berada di posisi wahid.
Tapi, menyangkut strategi bisnis, Barca tergolong andal. Di tengah krisis keuangan global, klub juara 17 kali Liga Primera Spanyol itu justru melakukan invasi luar negeri, tepatnya ke Amerika Serikat (AS). Langkah yang ditempuh Barca ialah membeli franchise salah satu klub Major League Soccer (MLS/Liga Sepak Bola AS) di Miami. Dalam urusan itu, Barca bekerja sama dengan Marcelo Claure, investor dari Bolivia.
''Kami beruntung bisa mendapat rekan kerja seperti Marcelo Claure. Dia pengusaha Bolivia yang tinggal di Miami dan sangat mengenal bisnis ini karena dia kerap melayani pebisnis di Amerika Serikat dan Amerika Selatan,'' kata Joan Laporta, presiden Barcelona, dalam pernyataan yang dirilis situs resmi klub kemarin (15/10).
Claure sudah memiliki klub di Bolivia yang bernama FC Bolivar. Klub tersebut juga sudah melakukan kerja sama dengan Barcelona. ''Ketika otoritas MLS mulai membuka diri untuk franchise, kami tertarik dan Miami adalah pilihan yang tepat,'' terang Laporta.
Miami memang tidak lagi memiliki klub sepak bola sejak Miami Fusion maupun Tampa Bay Mutinity (Florida) gulung tikar pada akhir 2001. Tapi, dengan gebyar MLS yang mulai bersinar, Miami ingin ambil bagian lagi. Apalagi, otoritas MLS berencana menambah kuota kontestan menjadi 18 klub pada musim 2011. Saat ini kontestan MLS adalah 14 klub, tapi bakal bertambah terus di dua tahun ke depan setelah Seattle memastikan bergabung pada 2009 dan Philadelphia menyusul setahun kemudian.
Lain lagi dengan Paul Davidson. Pengusaha ledeng asal Inggris itu, rupanya, tidak terpengaruh krisis keuangan global. Sebab, dia justru menggelontorkan pundi-pundi kekayaannya untuk membeli saham klub Liga Primera Spanyol, Real Mallorca.
Kemarin (15/10) lembaga pengadilan di Mallorca membenarkan bahwa Davidson telah membeli 91,24 persen saham milik Vincente Grande, pemegang saham mayoritas Mallorca sebelumnya. Nominal yang harus dibayar Davidson untuk proses akuisisi itu adalah 38 juta euro atau sekitar Rp 503,65 miliar (kurs 1 euro = Rp 13.213).
''Dia (Davidson, Red) kini menjadi pemilik baru Real Mallorca,'' demikian pernyataan juru bicara Mallorca seperti dilansir Reuters.
Nama Davidson memang asing di dunia internasional. Tapi, di Inggris, Davidson dikabarkan sudah tertarik membeli klub sepak bola sejak beberapa bulan lalu. Dia kali terakhir terlibat negosiasi dengan Mike Ashley, pemilik Newcastle United. Tapi, upaya Davidson gagal karena dia kurang disukai jajaran dewan pengurus Newcastle yang dipimpin Freddy Shepard.
Invasi Davidson ke Spanyol seakan kontras dengan situasi yang terjadi di Premier League. Dalam lima tahun terakhir, Premier League justru ''dijajah'' investor asing. Sembilan di antara 20 klub Premier League kini dimiliki pengusaha dari luar Inggris.
Di pihak lain, dampak buruk dari krisis keuangan global diwakili dua klub elite Inggris, Chelsea dan Arsenal. Sebagaimana dikabarkan Bloomberg, pemilik Chelsea Roman Abramovich disebut merugi sangat besar, yakni 11,75 miliar pounds atau sekitar Rp 199,3 triliun (kurs 1 pounds = Rp 16.912). Tapi, juru bicara Chelsea belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut.
Sementara itu, Alsiher Usmanov, pemilik saham terbesar Arsenal yang juga asal Rusia, membantah kabar bahwa dirinya merugi 6,7 miliar pounds atau sekitar Rp 113,4 triliun. ''Tidak rasional saya rugi sebanyak itu,'' kata Usmanov kepada Sportinglife.
Bahkan, Usmanov berencana menambah sahamnya di Arsenal dari 24 persen menjadi 25 persen. ''Ketika seorang pria mencintai seorang wanita, dia tak akan menjual cintanya. Saya sudah jatuh cinta kepada Arsenal dan selama Arsene Wenger menjadi pelatih Arsenal, saya akan tetap di klub ini," tandasnya. (dns/ca)